Kisah Pilu Penyelamatan 11 Anak dari Kelompok Ekstremis AS

Marcheilla Ariesta    •    Senin, 06 Aug 2018 10:42 WIB
amerika serikat
Kisah Pilu Penyelamatan 11 Anak dari Kelompok Ekstremis AS
Ilustrasi pencarian anak hilang. (Foto: Dok. Medcom.id).

New Mexico: Polisi mengatakan menyelamatkan 11 anak di negara bagian New Mexico, Amerika Serikat. Para petugas menggerebek kompleks bobrok yang ditempati orang-orang bersenjata dan berhaluan ekstrem.

Dua orang ditangkap usai polisi menemukan anak-anak tersebut. "Kondisi hidup mereka menyedihkan," tukas salah seorang petugas polisi, dilansir dari laman AFP, Senin 6 Agustus 2018.

Pencarian ini merupakan bagian dari operasi terkait anak tiga tahun yang diculik. Penyelidikan dimulai akhir tahun lalu di Jonesboro, Georgia, di mana Siraj Wahhaj, 39 dituduh menculik anak-anaknya.

Ibu anak itu mengatakan kepada polisi bahwa bocah yang diculik tersebut menderita kejang dan keterlambatan perkembangan dan kognitif. Mereka pergi bersama sang ayah Desember lalu dan tak pernah kembali lagi.

Pada 2 Agustus kemarin, Sheriff Jerry Hogrefe dari wilayah Taos di New Mexico mengeluarkan surat perintah penggeledahan yang menggambarkan sebuah tempat dikelilingi ban dan tanah, di wilayah Amalia, di mana Wahhaj bersembunyi.

"FBI memberikan informasi dan pengawasan di tempat itu, namun saya merasa ada cukup kemungkinan bagaimana orang bisa tinggal di situ," tuturnya.

"Itu semua berubah bagi saya ketika sebuah pesan diteruskan kepada kami dari kompleks tersebut, isinya 'kami kelaparan dan membutuhkan air serta makanan'," ucap sheriff lewat sebuah pernyataan.

Dia mengatakan harus segera memeriksa tempat itu secepat mungkin. Akhirnya dia membuat perencanaan dan kemudian mengetahui para penghuni kemungkinan besar bersenjata berat dan dianggap ekstremis.

"Tak hanya tanpa makanan, namun mereka hidup tanpa sepatu, dan pakaiannya kotor. Satu-satunya makanan yang kami lihat hanya beberapa kentang dan sekotak beras. Namun yang paling memilukan ketika tim menemukan anak-anak itu tampak seperti pengungsi negara dunia ketiga," tukasnya.

Saat ini, pihak kepolisian menahan tiga perempuan yang dianggap sebagai orangtua anak-anak tersebut. Mereka ditahan untuk ditanyai mengenai kejadian tersebut.


(WIL)