Lari ke AS, Keluarga Penyintas Perang Dunia Ditolak Masuk

Arpan Rahman    •    Selasa, 10 Jul 2018 19:52 WIB
amerika serikat
Lari ke AS, Keluarga Penyintas Perang Dunia Ditolak Masuk
Anne Frank (Foto:AFP)

Washington: Keluarga penulis buku harian termasyhur Anne Frank dua kali berupaya mendapatkan visa imigrasi Amerika Serikat (AS). Tetapi digagalkan oleh satu larangan, menurut laporan terbaru. Laporan diterbitkan 76 tahun setelah mereka dipaksa bersembunyi di Amsterdam yang diduduki Nazi.

Laporan dikeluarkan Anne Frank House dan US Holocaust Memorial Museum (USHMM) di Washington, merinci tantangan yang dihadapi oleh sejumlah keluarga asal Yahudi yang ingin lepas dari cengkeraman anti-semit Nazi di Eropa dan menegosiasikan sentimen anti-pengungsi yang kemudian terbangun di AS.

Gertjan Broek, peneliti di Anne Frank House, dan Rebecca Erbelding dari USHMM menulis dalam laporan mereka bahwa Otto Frank, ayah Anne, mulai mencari cara melarikan diri ke AS pada awal 1938. Saat itu, AS tidak memiliki kebijakan pengungsian, tetapi kuota diberlakukan berdasarkan asal negara.

Keluarga Frank tidak pernah secara resmi ditolak visanya, laporan itu menyimpulkan, tetapi aplikasi mereka dianggap tidak berguna oleh "birokrasi, perang, dan waktu". Satu aplikasi hilang dalam pengeboman Jerman di Rotterdam, Belanda, pada 1940.

Keluarga itu kemudian menghadapi kesulitan memperoleh salinan kertas dan sertifikat baru di bawah rezim yang secara sistematis membuat orang Yahudi secara efektif tidak memiliki kewarganegaraan.

Saat yang sama, publik AS mencatat sikap yang semakin negatif terhadap pengungsi. Sebuah jajak pendapat publik pada Mei 1938 menemukan bahwa 67 persen orang Amerika yang disurvei mengatakan mereka ingin bebas dari Jerman, Austria, dan "pengungsi politik lainnya" keluar dari AS. Pada 1941, 71 persen dari mereka yang disurvei mengatakan mereka percaya Nazi telah membentuk jaringan mata-mata dan penyabot AS.

Franklin Roosevelt memperingatkan tentang "memata-matai di bawah paksaan", dan pemerintah bertindak seperlunya, melarang pendatang dengan kerabat di negara-negara yang diduduki Jerman. Seperti yang dinyatakan oleh laporan, "keamanan nasional lebih diutamakan daripada masalah kemanusiaan".

Ketika prospek mereka memburuk, Otto Frank beralih ke Nathan Straus, pengusaha Amerika dan teman seperguruan tinggi, untuk membantu berimigrasi. Pada awal 1941, dia menulis tentang aplikasi keluarga tahun 1938 dan mengatakan dia merasa Amerika adalah satu-satunya tempat keluarganya dapat aman.

"Saya terpaksa mencari emigrasi dan sejauh yang saya bisa lihat AS adalah satu-satunya negara yang bisa kami datangi," tulis Frank dalam surat per April, seperti dinukil dari Guardian, Selasa 10 Juli 2018. 

Pada Juni, harapan emigrasi mereka hancur ketika AS dan Jerman memerintahkan penutupan konsulat asing mereka.

Dalam waktu satu tahun, keluarga Frank bersembunyi, di mana mereka kemudian bergabung dengan keluarga Yahudi lainnya, Van Pelses. Mereka bersembunyi selama lebih dari dua tahun, sebelum kelompok itu ditemukan pada 9 Agustus 1944. Hanya Otto Frank yang selamat dari deportasi ke berbagai kamp konsentrasi sedangkan Anne Frank sekarat di Bergen-Belsen pada 1945 pada usia 15 tahun.

"Kesimpulannya pasti bahwa upaya keluarga Frank dan van Pels tidak berhasil karena jumlah pelamar yang berkembang pesat untuk sejumlah kecil lowongan pada daftar kuota; keengganan presiden, Departemen Luar Negeri dan Kongres (atau rakyat Amerika) untuk membuka imigrasi di luar batas yang ditentukan oleh undang-undang kuota tahun 1924 atau berusaha untuk memenuhi kuota ini; dan, akhirnya, dampak perang terhadap kemungkinan lolos," kata Broek dan Erbelding dalam laporannya, yang didasarkan pada korespondensi antara Otto Frank dan teman-temannya serta dokumen yang diberikan kepada pihak berwenang AS.


(WAH)