Komite Kongres Tolak Tuduhan Korupsi Presiden Brasil

Arpan Rahman    •    Jumat, 14 Jul 2017 16:18 WIB
politik brasil
Komite Kongres Tolak Tuduhan Korupsi Presiden Brasil
Presiden Brasil Michel Temer dituduh melakukan korupsi (Foto: AFP).

Metrotvnew.com, Rio de Janeiro: Sebuah komite kongres menolak rekomendasi untuk memeriksa Presiden Brasil yang dituduh korupsi. Tolakan ini memberikan kemenangan simbolis bagi Michel Temer, pada Kamis 13 Juli 2017, sehari setelah mantan presiden dihukum karena korupsi.
 
Kasus korupsi terhadap dua tokoh besar Brasil menggarisbawahi tingkat kekacauan politik di negara terbesar Amerika Latin. Penyelidikan korupsi yang menyebar sudah menemukan sebuah skema suap dan sogokan bagi bantuan politik dan kontrak publik.

(Baca: Lepas dari Tuduhan Korupsi, Pengadilan Bebaskan Presiden Brasil).
 
Penyelidikan itu menyeruakkan tuduhan bahwa Presiden Michel Temer menerima suap dari seorang eksekutif pengemasan daging dengan imbalan membantu perusahaan tersebut mendapatkan keputusan pemerintah yang menguntungkan. Temer membantah berbuat kesalahan.
 
Awal pekan ini, seorang anggota parlemen yang ditunjuk buat mempelajari kasus Temer merekomendasikan agar tuntutan itu diterima, sebuah pukulan bagi Temer.
 
Tapi pada Kamis, sebuah komite di Dewan Perwakilan Rakyat menolak rekomendasi tersebut, memberi angin kembali ke Temer.
 
Kedua gerakan sebagian besar bersifat simbolis. Keputusan buat membekukan jabatan Temer dan mendudukkannya di pengadilan bersandar pada majelis rendah: Jika dua pertiga dari 513 deputi memilih melawan Temer, ketua  majelis rendah Rodrigo Maia akan mengambil alih tugas kepresidenan sementara Mahkamah Agung Brasil menyidangkan presiden.
 
Usai pemilihan komite yang kontroversial, sesekali muncul jeritan, beberapa anggota parlemen meneriakkan "Temer mundur!" Dan "Membeli suara!" Yang lain menanggapi dengan "Hidup Temer!"
 
Beberapa anggota parlemen mengeluhkan bahwa pergantian anggota komite secara luas dalam beberapa hari terakhir membuat komite tersebut menjadi sebuah lelucon. Para pemimpin partai memiliki hak untuk mengganti anggota mereka dalam komite sesuai keinginan mereka. 
 
Sedangkan media Brasil melaporkan bahwa pihak-pihak yang bersekutu dengan Temer melakukan beberapa penggantian semacam itu. Dibubuhi dengan tawaran nyata guna menjamin pemungutan suara menjadi jalan mulus sang presiden.
 
Investigasi "Operasi Cuci Mobil" raksasa telah menyebabkan ketegangan politik di Brasil. Timbul perpecahan antara mereka yang menganggap jaksa dan hakim pemburu kasus korupsi sebagai pahlawan dan mereka yang menduga beberapa tuntutan bermotif politik.
 
Daniel Schweimler reporter Al Jazeera, melaporkan dari Rio de Janeiro, mengatakan Temer berada dalam posisi yang sedikit lebih kuat daripada sebelum pemilihan. Kongres secara lengkap kemungkinan akan bersidang, pada Jumat 14 Juli 2017, atau awal pekan depan sebelum kongres mengambil reses musim dingin sampai Agustus.
 
"Jadi semua masih harus bermain -- presiden sendiri yakin bahwa dia akan memenangkan suara tersebut dalam kongres. Dia katakan, tidak melakukan kesalahan apapun, pendukungnya menyokongnya. Dia mencoba buat mendapatkan suara secepat mungkin. Dia berkata dia bisa memerintah Brasil," kata Schweimler.
 
"Lawannya ingin melakukan pemeriksaan dan menunda pemungutan suara selama mungkin -- mereka yakin ada lebih banyak bukti di luar sana, bahwa ada politisi korup yang sudah dipenjara, sudah diselidiki, siapa yang memiliki informasi yang akan dilepaskan yang akan melibatkan Michel Temer dan menyebabkan kasus yang lebih kokoh melawannya," cetusnya, seperti dilansir Al Jazeera, Jumat 14 Juli 2017.
 
Masih dalam permainan
 
Sehari setelah dihukum karena korupsi, mantan Presiden Luiz Inacio "Lula" da Silva memicu ketegangan, Kamis, dengan sebuah pembelaan publik yang menantang. Ia menuduh lawan-lawan politiknya mencoba mencegahnya menjadi presiden lagi.
 
Seorang hakim federal menemukan Lula bersalah, pada Rabu 12 Juli 2017, dan menghukumnya sembilan setengah tahun penjara, meski dia tetap bebas sementara tuntutan banding diajukan.

(Baca: Mantan Presiden Brasil Divonis Penjara 9,5 Tahun karena Korupsi).

 
Lula berbicara kepada para pendukungnya bahwa pengadilan tidak memiliki bukti dan tuduhan tersebut bermotif politik. Di tengah sorak-sorai, dia katakan ingin mencalonkan kembali dalam pemilu, tahun depan.
 
"Jika ada yang berpikir bahwa dengan tuntutan ini mereka akan menarik saya keluar dari permainan, mereka harus tahu bahwa saya masih ada dalam permainan," kata Lula. 
 
"Satu-satunya orang yang bisa menyatakan keputusan akhir adalah rakyat Brasil," tegasnya.
 
Kasusnya sekarang berjalan di depan majelis hakim. Salah satu hakim berjanji, Kamis, bahwa tindakan akan diambil sebelum pemilihan, Oktober 2018. Jika mereka menjunjung tinggi hukuman tersebut, aturan Brasil menyatakan bahwa Lula akan dilarang untuk mengejar jabatan.
 
"Pada Agustus tahun depan, kasus ini akan diputuskan," kata Hakim Carlos Eduardo Thompson, satu dari tiga hakim yang akan memutuskan banding tersebut. 
 
"Entah pengadilan akan mengkonfirmasi keputusan ini dan dia akan tidak dapat dipilih atau akan mengubah keputusan tersebut dan dia akan dapat mencalonkan diri," serunya.
 
Lula dituduh menerima apartemen di tepi pantai dan merenoviasi properti tersebut sebagai suap dari perusahaan konstruksi OAS. Dia tidak pernah memiliki apartemen itu, tapi jaksa berpendapat properti itu dimaksudkan untuk dirinya.
 
Lula merupakan tokoh dengan profil tertinggi yang terbukti bersalah dalam penyelidikan korupsi sejauh ini. Mantan presiden Brasil pertama yang dinyatakan bersalah dalam proses pidana sejak pemulihan demokrasi di tahun 1980an.
 
Daniel Schweimler dari Al Jazeera mengatakan bahwa banyak orang Brasil bersikap sinis terhadap politisi mereka saat saga "Operasi Cuci Mobil" berlangsung.
 
"Saya pikir mereka (masyarakat umum) hanya sinis, lelah, bingung dengan apa yang sedang terjadi -- menonton dari kejauhan untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya," pungkasnya.



(FJR)