Washington Sebut Penasihat Militer AS Beroperasi di Dalam Raqqa

Willy Haryono    •    Kamis, 13 Jul 2017 14:36 WIB
isis
Washington Sebut Penasihat Militer AS Beroperasi di Dalam Raqqa
Seorang anggota SDF berada di sebuah balkon bangunan di Raqqa, Suriah, 27 Juni 2017. (Foto: REUTERS/Goran Tomasevic)

Metrotvnews.com, Washington: Amerika Serikat (AS) mengakui para penasihat militernya beroperasi di dalam Raqqa, kota yang diklaim militan Islamic State (ISIS) sebagai pusat kekhilafahan mereka di Suriah. 

Para personel militer itu, banyak dari mereka berasal dari unit khusus, bekerja dalam misi "menasihati, mendukung dan menemani" pasukan lokal SDF dalam memerangi ISIS. 

Meski tidak terlibat langsung dalam misi tempur, para penasihat AS bertugas mengerahkan serangan udara dan bekerja di dekat zona pertempuran. 

"Mereka lebih rentan terpapar serangan musuh ketimbang misi di Irak," ucap juru bicara militer AS Kolonel Ryan Dillon kepada kantor berita AFP, Rabu 12 Juli 2017. 

Dia mengatakan personel militer AS di Raqqa "tidak berjumlah ratusan," namun telah bekerja sangat dekat dengan pejuang SDF sejak operasi pengepungan Raqqa dimulai. 

Setelah merebut kembali beberapa desa dan area sekitar Raqqa, operasi membebaskan kota tersebut telah dimulai pada November tahun lalu. Pada 6 Juni, SDF berhasil masuk ke Raqqa. 

Bulan ini SDF berhasil membobol tembok kuno di Kota Tua Raqqa lewat bantuan serangan udara koalisi pimpinan AS. Di sana, sekelompok militan ISIS bertahan habis-habisan. 

SDF adalah pasukan aliansi Arab Kurdi yang dilatih dan dipersenjatai oleh AS. 

Dillon menyebut pihaknya kini sering melihat militan ISIS menggunakan pesawat tanpa awak alias drone yang dilengkapi dengan bahan peledak. Taktik serupa digunakan militan ISIS di Mosul, Irak. 

"Dalam dua pekan terakhir, penggunaan drone meningkat seiring pergerakan kami ke dalam pusat kota Raqqa," ungkap Dillon. 

Grup pemantau Syrian Observatory for Human Rights mengatakan pada Rabu bahwa pertempuran di Raqqa telah berlangsung selama 37 hari berturut-turut. Observatory menambahkan SDF kini menguasai lebih dari 50 persen kota tersebut.

Menurut data Observatory, sekitar 730 orang tewas dalam pertempuran di Raqqa, dan sekitar satu per tiganya adalah warga sipil.


(WIL)