PBB: ISIS Tetap Mengancam Meski Terpukul di Irak dan Suriah

Willy Haryono    •    Jumat, 11 Aug 2017 16:02 WIB
isis
PBB: ISIS Tetap Mengancam Meski Terpukul di Irak dan Suriah
Bendera hitam ISIS berkibar di distrik Daquq, Irak. (Foto: AFP / MARWAN IBRAHIM)

Metrotvnews.com, New York: Kelompok militan Islamic State (ISIS) terus "memotivasi dan memicu" serangan teror global dan menyalurkan dananya ke para simpatisan meski mendapat pukulan telak di Irak dan Suriah. 

Demikian disampaikan sebuah laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kamis 10 Agustus 2017. 

Seperti dikutip AFP, laporan setebal 24 halaman itu, yang disiapkan sebuah tim pakar untuk Dewan Keamanan PBB, juga menyebutkan adanya berbagai paket dana yang dikirim ISIS ke luar negeri. Karena jumlahnya relatif kecil, berbagai paket dana itu sulit dideteksi otoritas negara tujuan. 

Dana itu ditujukan kepada para simpatisan, terutama di wilayah Eropa, untuk membiayai persiapan aksi teror. 

Masih dari laporan PBB, sumber dana ISIS berasal dari keuntungan sektor perminyakan dan pengambilan pajak dari masyarakat di tempat jajahan mereka. 

Setelah Eropa, lapor PBB, ISIS berusaha melebarkan sayapnya ke Asia Tenggara. Hal ini dapat dilihat dari perang antara pasukan Filipina melawan militan terafiliasi ISIS di kota Marawi, yang telah menewaskan hampir 700 orang. 

Laporan PBB juga menyebut perlu adanya pembinaan bagi pemuda di bawah umur yang kembali ke negara mereka masing-masing usai diradikalisasi ISIS. PBB menilai agar para pemuda yang sudah diradikalisasi itu perlu mendapat perhatian khusus, dan perlindungan jika masih di bawah umur. 

Menurut laporan PBB, ISIS belum sepenuhnya kalah di kota Mosul meski pasukan Irak sudah mengklaim kemenangan. "ISIS masih menjadi ancaman signifikan bagi militer," tulis laporan PBB. 

Selain ISIS, laporan PBB juga menyinggung mengenai grup Al-Qaeda yang tetap memegang jaringan kuat di Afrika Barat dan Timur serta Semenanjung Arab, terutama Yaman. 

Sementara itu, para pakar menyerukan DK PBB untuk mengingatkan negara-negara anggota agar tidak membayar uang tebusan dalam negosiasi pembebasan tawanan.

 


(WIL)