Nicolas Maduro Resmi Dilantik Pimpin Venezuela

Sonya Michaella    •    Jumat, 11 Jan 2019 10:10 WIB
konflik venezuelavenezuelaEkonomi Venezuela
Nicolas Maduro Resmi Dilantik Pimpin Venezuela
Nicolas Maduro dilantik jadi Presiden Venezuela untuk kedua kalinya. (Foto: AFP)

Caracas: Nicolas Maduro telah dilantik untuk kembali memimpin Venezuela untuk kedua kalinya, kendati pemungutan suara yang dilakukan Mei pada 2018 dianggap banyak kejanggalan.

Kala itu, Maduro meraup 5,8 juta suara, sementara pesaingnya, Henri Falcon, hanya mendapatkan 1,8 juta suara.

Pelantikannya di Caracas turut dihadiri oleh Presiden Nikaragua Daniel Ortega dan Presiden Bolivia Evo Morales. Namun, pelantikan Maduro diwarnai protes dari pihak oposisi.

"Ada masalah di Venezuela, seperti di negara lain. Tapi kami harus menyelesaikannya tanpa intervensi asing. Venezuela tengah berada di pusat perang yang dipimpin imperialisme Amerika Serikat (AS)," kata Maduro dalam pidatonya, dikutip dari BBC, Jumat 11 Januari 2019.

Baca: Maduro Dinyatakan Menang dalam Pilpres Venezuela

Pelantikan Maduro dilakukan di hadapan Mahkamah Agung di samping Kongres yang mayoritas adalah oposisi telah dilucuti dari kekuasaannya sejak Partai Sosialis hilang kekuasaan pada tahun 2016.

Banyak negara tak setuju dengan terpilihnya Maduro menjadi presiden. Pemungutan suara 2018 lalu dianggap tidak sah.

Maduro pertama kali memimpin Venezuela pada 2013 sepeninggal Hugo Chavez yang meninggal karena sakit kanker setelah memerintah selama 14 tahun. 

Sejak menjabat, Maduro banyak menerima kecaman dari dalam dan luar negeri atas tuduhan pelanggaran HAM dan penanganan ekonomi negeri yang tidak baik.

Baca: Hidupi Keluarga, Pengungsi Venezuela Terjun ke Prostitusi

Venezuela merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia dan memegang kepresidenan OPEC hingga 2025. Namun, ekonomi Venezuela jatuh terperosok sejak 2017 awal dan mengalami inflasi.

Inflasi Venezuela kini mencapai 1,3 juta persen dalam 12 bulan hingga November 2018, menurut sebuah studi dari Majelis Nasional yang dikendalikan oposisi. AS juga sempat menjatuhkan sanksi yang diklaim Maduro merugikan Venezuela hingga USD20 miliar, tahun lalu.

Krisis ekonomi ini membuat sekitar 2,3 juta warga Venezuela melarikan diri dari negara itu sejak 2015. Bentrokan anti-pemerintah pada 2017 pun menewaskan 125 orang. 



(FJR)