Obama Desak Israel dan Palestina Segera Berdamai

Sonya Michaella    •    Rabu, 21 Sep 2016 08:20 WIB
sidang majelis umum pbb 2016
Obama Desak Israel dan Palestina Segera Berdamai
Presiden AS, Barack Obama di UNGA 2016 (Foto: AP)

Metrotvnews.com, New York: Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama mendesak agar Israel segera mengakhiri okupasi atau kependudukannya di Palestina, dan sebaliknya, agar Palestina mengakui legitimasi Israel.

Obama mengungkapkan pandangannya bahwa baik Israel maupun Palestina akan mendapatkan keuntungan jika Israel menyadari bahwa negara itu tidak akan dapat secara permanen menduduki wilayah Palestina. 

Dalam pertemuan yang akan dihadiri Obama untuk terakhir kali sebelum masa jabatannya usai sebagai presiden, ia juga menyebutkan bahwa Palestina harus mampu menolak segala hasutan dan mencoba menerima legitimasi Israel. 

"Tentunya Israel dan Palestina akan lebih baik jika Palestina menolak hasutan dan mengakui legitimasi Israel, (dan jika) Israel mengakui bahwa ia tidak dapat secara permanen menduduki dan mendiami tanah Palestina," ujar Obama di Sidang Majelis Tahunan PBB, di New York, seperti dikutip Reuters, Rabu (21/9/2019).

Upaya Obama untuk melanjutkan perjanjian perdamaian antara Israel-Palestina gagal selama hampir delapan tahun masa jabatannya di Gedung Putih. Upaya pemerintahan Obama untuk melanjutkan perjanjian itu terhenti sejak 2014. 

Para pejabat AS menduga Obama akan mampu memaparkan draf kasar yang akan menjadi parameter dalam kesepatakan tersebut sebelum ia lengser pada Januari mendatang. Namun para pakar memprediksi hal itu tidak akan terjadi.


Kependudukan Israel di Palestina/AFP

Dalam kesempatan itu, Obama juga menyinggung campur tangan Rusia pada berbagai konflik di negara tetangganya, termasuk soal pencaplokan Krimea dari Ukraina pada 2014 setelah penggulingan mantan presiden Ukraina yang pro-Rusia, Viktor Yanukovich.

Ia memperingatkan Rusia bahwa jika "terus mencampuri urusan negara tetangga, hal itu mungkin dapat menumbuhkan rasa nasionalisme di dalam negeri, namun juga akan membuat perbatasannya kurang aman dan memperburuk citranya sebagai sebuah negara."

Obama menilai Rusia tengah berusaha untuk memulihkan "masa kejayaan yang telah hilang" melalui kekuatan militer. 

Selain itu, Obama juga menyinggung sengketa internasional di Laut China Selatan. "Sebuah resolusi damai sengketa melalui jalur hukum akan lebih mampu menciptakan stabilitas ketimbang militerisasi di pulau dan karang," sebut Obama.

China mengklaim hampir 90 persen kawasan Laut China Selatan, salah satu jalur perdagangan tersibuk dunia dengan nilai mencapai USD5 triliun per tahun. 

Klaim China di kawasan yang diduga kaya minyak itu tumpang-tindih dengan klaim Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam

Pada Juli lalu, pengadilan arbitrase internasional yang berbasis di Den Haag, Belanda, memutuskan bahwa klaim China tersebut tidak berdasar. Namun China tidak mengindahkan keputusan itu.


(FJR)