Hakim AS Hentikan Sementara Deportasi Imigran

Arpan Rahman    •    Selasa, 17 Jul 2018 14:12 WIB
amerika serikatimigran gelap
Hakim AS Hentikan Sementara Deportasi Imigran
Sejumlah imigran bersama anak-anak mereka di McAllen, Texas, AS, 17 Juni 2018. (Foto: AFP/LOREN ELLIOTT)

 Washington: Seorang hakim federal memerintahkan otoritas keimigrasian Amerika Serikat (AS) menghentikan sementara deportasi keluarga imigran. 

Alasan penundaan adalah untuk menentukan apakah para imigran ingin meninggalkan AS dengan atau tanpa anak-anak mereka.

Hakim Dana Sabraw mengeluarkan putusan itu dalam sebuah. Serikat Kebebasan Sipil Amerika (ACLU), mewakili sejumlah orang tua imigran yang terpisah dari anak-anak mereka, meminta agar otoritas keimigrasian AS menunda deportasi, sampai setidaknya satu pekan setelah reunifikasi keluarga dilakukan.

ACLU mengatakan muncul rumor di tengah imigran "bahwa deportasi massal akan segera dilakukan setelah reunifikasi."

"Tetap tinggal selama satu pekan ke depan adalah alasan wajar dan tepat untuk memastikan bahwa trauma yang dialami beberapa keluarga ini tidak menjadi lebih buruk lagi," tambah organisasi itu, seperti dilansir dari UPI, Selasa 17 Juli 2018.

Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) sedang dalam proses menyatukan kembali sekitar 2.500 anak-anak imigran usia 5 hingga 17 tahun yang terpisah dari orang tua mereka setelah melintasi perbatasan. 

Terpisahnya anak-anak terjadi di tengah kebijakan zero-tolerance pemerintahan Presiden AS Donald Trump dalam menangani imigran gelap, yang mulai diberlakukan pada April.

Sabraw memerintahkan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menyatukan kembali keluarga yang terpisah dalam dua tahap: anak-anak berusia di bawah 5 tahun pada 10 Juli dan anak-anak yang lebih besar pada 26 Juli. 

Pekan lalu, AS telah menyatukan lebih dari separuh 103 anak imigran.


(WIL)


Trump Sebut AS Siap Tingkatkan Senjata Nuklir

Trump Sebut AS Siap Tingkatkan Senjata Nuklir

1 day Ago

Trump menyebut Rusia tidak patuh terhadap semangat dari perjanjian nuklir era Perang Dingin.

BERITA LAINNYA