AS Tetap Utamakan COC untuk Atasi Konflik Laut China Selatan

Sonya Michaella    •    Rabu, 15 Nov 2017 11:40 WIB
laut china selatan
AS Tetap Utamakan COC untuk Atasi Konflik Laut China Selatan
Presiden AS Donald Trump bersama dengan pemimpin negara anggota ASEAN di Manila, Filipina (Foto: AFP).

Jakarta: Dalam pertemuan Amerika Serikat (AS) dan ASEAN di sela KTT ASEAN ke-41 di Pasay City, Filipina, polemik Laut China Selatan menjadi salah satu bahasan.

(Baca: Presiden Meminta Perundingan CoC Segera Diselesaikan).

Wakil Duta Besar AS untuk ASEAN, Daniel Shield mengatakan, AS tetap berpegang teguh pada penyelesaian Code of Conduct (CoC) untuk menyelesaikan kasus ini.

"AS tetap berpegang teguh pada penyelesaian CoC dan hukum internasional yang ada untuk menyelesaikan masalah ini," ucap Shield dalam telekonferensi yang dilakukan di Kedutaan Besar AS di Jakarta, Rabu 15 November 2017.

"Namun, Code of Conduct bukanlah satu-satunya solusi untuk permasalahan Laut China Selatan," tegas dia.

Selain itu, Presiden AS Donald Trump yang hadir dalam pertemuan tersebut juga menekankan lagi tentang kebebasan navigasi dan juga zona bebas terbang tetap ada di kawasan Laut China Selatan.

Shield menegaskan kembali bahwa AS juga tidak menyetujui adanya klaim-klaim teritorial di perairan strategis di mana setiap tahunnya kapal perdagangan internasional melintas.

Sebelum hadir di Manila, Trump yang terlebih dulu menghadiri KTT APEC di Da Nang, Vietnam sempat melakukan pertemuan dengan Presiden Vietnam Tran Dai Quang.

Di pertemuan itu, Trump sempat menawarkan diri menjadi mediator di kasus Laut China Selatan. Bahkan, ia mengklaim dirinya sebagai mediator dan abritator yang sangat baik.

(Baca: Trump Tawarkan Diri jadi Mediator Laut China Selatan).

Menanggapi tawaran Trump ini, sejumlah pejabat Vietnam mengatakan bahwa mereka sudah mencapai kesepakatan dengan Tiongkok untuk mengatasi sengketa Laut China Selatan.

Tanggapan juga keluar dari Menteri Luar Negeri Filipina Alan Peter Cayetano terkait tawaran Trump tersebut.

Cayetano mewakili pemerintahnya, sangat berterima kasih atas tawasan Presiden Trump. Namun, ia menilai negara-negara yang bersengketa lebih baik merundingan masalah perairan strategis ini sendiri sebagai sebuah kesatuan.

 
 


(FJR)