Hitler Mungkin Lari dari Jerman ke Amerika Selatan

Arpan Rahman    •    Kamis, 02 Nov 2017 09:42 WIB
nazi
Hitler Mungkin Lari dari Jerman ke Amerika Selatan
Dokumen rahasia CIA mengenai kemungkinan Adolf Hitler berada di Kolombia (Foto: CIA).

Metrotvnews.com, Washington: Sudah dianggap sebagai fakta sejarah bahwa Adolf Hitler bunuh diri pada 30 April 1945, ketika makin jelas bahwa Nazi Jerman akan takluk pada pasukan Sekutu.
 
Namun beberapa dokumen Central Intelligence Agency (CIA) -- yang baru-baru ini terbongkar -- menunjukkan bahwa CIA sudah menyelidiki kemungkinan Hitler melarikan diri dari Eropa dan bersembunyi di Kolombia pada 1954.
 
Dokumen pertama, tertanggal 3 Oktober 1955, mengatakan bahwa agen CIA yang tidak disebutkan namanya yang disebut sebagai "CIMELODY-3" dihubungi oleh "seorang rekan terpercaya yang bertugas di bawah komandonya di Eropa dan yang saat itu tinggal di Maracaibo (Venezuela)."
 
Rekan tersebut, yang juga anonim, mengatakan kepada agen CIA bahwa mantan tentara SS Jerman bernama Phillip Citroen mengatakan kepadanya bahwa Hitler sebenarnya masih hidup -- dan mantan diktator tersebut tidak dapat lagi dituntut sebagai penjahat perang karena telah lewat 10 tahun sejak berakhirnya Perang Dunia II.
 
Citroen, menurut dokumen dimaksud, mengatakan bahwa dia telah berbicara dengan Hitler "sebulan sekali" dalam sebuah perjalanan bisnis yang membawanya ke Kolombia, di mana dia sebutkan bahwa Hitler sedang bersembunyi.
 
Mantan polisi SS Jerman itu juga menuturkan kepada rekan CIMELODY-3 bahwa dia berpose dengan orang yang diduga Hitler untuk sebuah foto, yang terlampir dalam bocoran memo CIA.
 
Citroen katakan dia berada di sisi kiri gambar, sedangkan pria yang diklaimnya sebagai Hitler di sebelah kanan. Bagian belakang gambar tertulis: "Adolf Shrittelmayor, Tunga, Colombia, 1954."
 
Citroen mengatakan pula kepada rekan CIMELODY-3 bahwa Hitler pindah ke Argentina sekitar Januari 1955, menurut rincian memo.
 
Dokumen lain, yang tercatat 17 Oktober 1955, memberikan lebih banyak informasi, dengan mengutip "sebuah memorandum yang tidak bertanggal, yang diyakini ditulis sekitar pertengahan Februari 1954."
 
Menurut memo CIA itu, Citroen berkata kepada mantan anggota CIA yang bermarkas di Maricaibo bahwa dia bertemu dengan seseorang "yang sangat mirip dan mengklaim sebagai" Hitler di "Residencias Coloniales," yang terletak di Tunja, Kolombia. Dokumen itu mengungkapkan bahwa Citroen mengklaim banyak mantan Nazi tinggal di daerah itu -- dan mereka menganggap Hitler sebagai pemimpin tertinggi, "memperlakukan dia sebagai 'der Fuhrer' dan memberinya penghargaan Nazi dan pujian tertentu."
 
Namun CIA tetap skeptis -- dalam sebuah surat per 4 November 1955, para pejabat tinggi meragukan laporan tersebut.
 
"Rasanya upaya yang sangat besar (dihabiskan untuk mengkonfirmasi rumor tersebut) dapat diperluas mengenai hal ini dengan kemungkinan-kemungkinan jangka panjang untuk membangun sesuatu yang konkret," bunyi surat tersebut. "Oleh karena itu, kami menyarankan agar hal ini diabaikan," bubuhnya seperti dilansir Miami Herald, Rabu 1 November 2017.
 
Berkas dokumen tersebut tampaknya merupakan dokumen terakhir yang dirilis bersama dengan file John F Kennedy tentang Hitler yang berpotensi bersembunyi di Amerika Selatan.
 
Kendati agaknya tidak ada yang baru dari laporan tersebut, seorang sumber di Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) mengatakan kepada NationalInterest.org bahwa masih ada seseorang di CIA yang menghabiskan waktu untuk menangani kasus ini.
 
"Sumber itu menganggapnya layak dikirim ke markas besar CIA," kata sumber Kemenhan AS. 
 
Sumber yang lain mengklaim bahwa Hitler menemukan perlindungan di Amerika Selatan setelah dikalahkan dalam Perang Dunia II.
 
Abel Basti, seorang jurnalis Argentina, menulis sebuah buku berjudul "Tras los pasos de Hitler" yang melacak dugaan pergerakan Hitler di seluruh Amerika Selatan dan, lebih spesifik lagi, Kolombia, menurut Colombia Reports.
 
"Saya memiliki sebuah dokumen CIA yang mengatakan bahwa Hitler berada di Kolombia, juga sebuah foto dari CIA tentang Hitler di kota Tunja di mana dia bertemu dengan seorang Nazi lain bernama Phillipe Citroen pada 1954," katanya, menurut Colombia Reports.
 
Kontroversi tambahan seputar kematian Hitler muncul di tahun 2009, ketika para periset AS mengatakan bahwa mereka melakukan tes DNA selama satu jam mengenai apa yang diklaim oleh pemerintah Rusia merupakan fragmen tengkorak dari diktator Jerman tersebut.
 
Para periset menemukannya sebagai milik dari "seorang wanita berusia antara 20 sampai 40," kata Nick Bellantoni, dari University of Connecticut, kepada ABC News.



(FJR)