Kekerasan Terjadi saat Boikot Pemilu Venezuela, Tiga Orang Tewas

Arpan Rahman    •    Senin, 31 Jul 2017 11:11 WIB
konflik venezuela
Kekerasan Terjadi saat Boikot Pemilu Venezuela, Tiga Orang Tewas
Demonstran bentrok dengan aparat keamanan di Caracas, Venezuela, 3 Mei 2017. (Foto: EPA)

Metrotvnews.com, Caracas: Setidaknya tiga orang tewas ketika Venezuela menggelar pemilihan umum kontroversial yang dikhawatirkan kubu oposisi akan memicu akhir dari demokrasi.

Seorang kandidat di kota tenggara Ciudad Bolivar ditembak mati penyerang yang masuk ke rumahnya semalam. Sementara itu, gelombang protes yang terjadi sejak beberapa bulan lalu berubah mematikan.

Di daerah Caracas timur yang didominasi oposisi, polisi antihuru-hara memakai gas air mata untuk menghentikan pengunjuk rasa yang berkumpul di jalan utama ibu kota.

Dilansir ITV, Minggu 30 Juli 2017, setidaknya empat polisi cedera saat sebuah konvoi terkena ledakan di Caracas.

Pihak oposisi memboikot pemilu legislatif yang diikuti 5.500 kandidat untuk menduduki 545 kursi di majelis konstituante.

Keberhasilan pemilu kali ini akan diukur dengan jumlah pemilih. Pemerintahan Presiden Nicolas Maduro mendorong partisipasi warga lewat sejumlah taktik, termasuk menawarkan manfaat sosial seperti makanan bersubsidi untuk pekerja miskin dan mengancam pegawai negeri jika mereka tidak ikut memilih.

Momen menjelang pemungutan suara ditandai bentrokan antara demonstran dengan petugas, termasuk penembakan fatal terhadap seorang perawat 61 tahun oleh kelompok yang dituding sebagai paramiliter pro pemerintah.

Menggunakan hak pilihnya, Maduro meminta pengakuan global dalam pemilu kali ini.

Majelis Khusus

Maduro, tidak disukai sebagian warga Venezuela atas krisis ekonomi selama empat tahun masa jabatannya, berjanji bahwa majelis akan memulihkan perdamaian setelah 115 orang tewas dalam gelombang unjuk rasa selama berbulan-bulan.

Para kritikus berkata majelis akan memungkinkan Maduro membubarkan Kongres yang dikuasai oposisi, menunda pemilu mendatang, dan merevisi aturan elektoral demi mencegah kubu sosialis digulingkan.

Majelis khusus yang dipilih pada Minggu akan memiliki kekuatan merevisi konstitusi negara tahun 1999. Majelis juga akan memiliki kekuatan di atas dan di luar lembaga negara lainnya, termasuk kongres yang dikuasai oposisi.

Walau jajak pendapat menyebutkan mayoritas warga menentangnya, Maduro menegaskan dalam pidato televisi pada Sabtu bahwa ia akan menggunakan majelis itu untuk memerintah tanpa batasan. Ia menggambarkan pemilu kali ini "kekuatan di atas semua lembaga dan melampaui yang lain. Ini kekuatan super!"

 


(WIL)