Kerusuhan dan Penjarahan di Venezuela, Pemimpin Oposisi Ditangkap

Arpan Rahman    •    Sabtu, 15 Apr 2017 16:12 WIB
konflik venezuela
Kerusuhan dan Penjarahan di Venezuela, Pemimpin Oposisi Ditangkap
Protes anti pemerintah Venezuela terus merebak (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Caracas: Otoritas Venezuela mengatakan, mereka telah menangkap dua tokoh pemuda oposisi. Ini adalah langkah penumpasan terbaru atas berkecamuknya protes anti-pemerintah yang sudah menyebabkan lima orang tewas.
 
Pada Kamis 13 April malam, terlihat kerusuhan meletus di negara yang dilanda kekurangan pangan, tatkala para pengunjuk rasa di sebuah kota dekat ibu kota melemparkan bom molotov dan polisi balas menembakkan gas air mata.
 
Jose Sanchez dan Alejandro Sanchez ditangkap "karena mengatur aksi teroris dan serangan terhadap aparat perdamaian negara," tulis Menteri Dalam Negeri Nestor Reverol di Twitter, seperti dinukil Jamaica Observer, Jumat 14 April 2017.
 
Keduanya, tokoh pemuda partai Keadilan Utama (PJ), salah satu kelompok terkemuka dalam koalisi sayap kanan yang menekan Presiden sosialis Nicolas Maduro untuk mundur dari jabatannya.
 
Pmerintah Venezuela memicu kecaman internasional, pekan lalu, lantaran melarang tokoh oposisi yang paling menonjol, Henrique Capriles, memangku jabatan publik selama 15 tahun. Reverol katakan, kedua tahanan "mengaku ambil bagian dalam kekerasan, pekan ini."
 
Perkembangan terbaru selama lebih dari sepekan, bentrokan meletus Kamis malam sampai Jumat di kota Los Teques dekat ibu kota. Para pengunjuk rasa memasang barikade dan melemparkan bom molotov, dibalas polisi menembakkan gas air mata, seperti ditayangkan foto-foto di media sosial.


Pihak berwenang Venezuela hadapi kemarahan pengunjuk rasa (Foto: AFP).

 
Capriles, gubernur negara bagian Miranda dan sekitarnya, berkata, 15 toko dijarah, termasuk beberapa toko roti. Berbicara pada sebuah konferensi pers, ia menuduh bahwa "semua tindakan vandalisme" diperintahkan oleh kubu pemerintah.
 
Wali Kota Los Teques yang pro-pemerintah, Francisco Garces, di Twitter menyalahkan penjarahan sebagai "kekerasan dari faksi oposisi."
 
Lima orang, termasuk seorang anak berusia 13 tahun, telah tewas sejak 6 April dalam bentrokan dengan polisi anti huru-hara selama gelombang protes menentang Maduro.
 
Partai Keadilan Utama menolak tuduhan Reverol. Pihaknya menulis di akun Twitter bahwa kedua tokoh pemuda "diculik" oleh pasukan intelijen militer.
 
"Nestor Reverol, terorisme sebenarnya adalah siapa yang memimpin dengan merepresi rakyat," pernyataan pihak partai.
 
Maduro menantang upaya untuk menggulingkan dia selagi Venezuela berjuang mengatasi kekurangan pangan dan obat-obatan. Negara ini memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, namun jatuh sengsara akibat anjloknya harga minyak mentah selama beberapa tahun terakhir.
 
Demonstrasi terorganisir besar-besaran berikutnya sudah disebut oleh para pemimpin oposisi akan ditetapkan pada Rabu pekan depan. Gelombang itu diperkirakan menjadi pertarungan besar lanjutan dalam krisis semakin parah yang telah menimbulkan kekhawatiran dunia internasional tentang stabilitas Venezuela.
 
Pihak oposisi menuntut pemerintah menetapkan tanggal untuk menggelar pemilihan daerah yang tertunda. Juga muncul amarah atas gerakan yang membatasi kekuasaan legislatif dan melarang Capriles berkiprah dalam politik. Gerakan ini telah menuai kutukan internasional, termasuk dari Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa.
 
Maduro bersikeras menolak upaya oposisi mengadakan pemungutan suara untuk menyingkirkan dia, bersumpah akan melanjutkan "revolusi sosialis" yang diluncurkan oleh pendahulunya, Hugo Chavez.
 
Maduro katakan, krisis ekonomi adalah hasil dari apa yang ia sebut konspirasi kapitalis yang didukung AS.

(FJR)