Kehidupan Pelaku Penikaman AS Sebelum Mengamuk di Minnesota

Arpan Rahman    •    Selasa, 20 Sep 2016 10:59 WIB
penikaman
Kehidupan Pelaku Penikaman AS Sebelum Mengamuk di Minnesota
Dahir Adan (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Minnesota: Dia mengenakan seragam penjaga keamanan seperti yang dikenakannya saat bekerja di profesi lamanya di dekat sebuah pabrik perkakas. Dia parkir di luar pusat perbelanjaan kota kecil Minnesota di mana dirinya dibesarkan, kemudian menuju ke dalam, sambil memegang pisau besar.
 
Di dalam mal, seperti dikatakan polisi dan anggota keluarga, Dahir Adan melukai 10 orang dalam serangan penusukan yang kalut, menyayat korban remaja 15 tahun dan memulai gelombang panjang berjam-jam ketakutan. Amukannya berakhir di tangan seorang perwira polisi sedang-tidak-bertugas, yang menembak Adan di toko Macy.
 
Sementara polisi pada Senin 19 September terus merekonstruksi serangan Sabtu malam di mal Crossroads Center, mereka mencoba untuk memahami akar dari serangan kekerasan oleh pemuda Somalia-Amerika yang sudah tinggal di Amerika Serikat sejak masih balita.
 
Orang-orang yang kenal Adan, pemuda awal 20-an, mengatakan dirinya tampak hidup relatif tenang di kota ini. Ia dulu bermain sepakbola dengan teman-teman SMA-nya di St. Cloud, belajar sistem informasi di sebuah universitas negeri di dekat situ, dan bekerja sebagai penjaga keamanan di sebuah pabrik perkakas, yang tidak jauh dari rumah.
 
Warga di sini terpana oleh serangan itu, di mana, para korban mengatakan kepada polisi, Adan diperintah Allah dan bertanya kepada seorang pembeli apakah dia Muslim. Pihak berwenang belum mengkonfirmasi hubungan ke suatu kelompok teroris, namun kantor berita terkait dengan Islamic State (ISIS) mengklaim dalam waktu 12 jam dari serangan bahwa Adan adalah "seorang prajurit dari Islamic State."
 
Media mengatakan, serangan itu telah diluncurkan dalam menanggapi seruan ISIS yang 'memanggil untuk mencari sasaran warga negara yang tergabung dalam koalisi tentara salib'. FBI dilaporkan sedang menyelidiki serangan tersebut "sebagai tindakan terorisme potensial," namun para pejabat di Minnesota mengatakan mereka tidak menemukan hubungan langsung.
 
"Kami belum menemukan apa pun yang memberi kesan [dia bukan] penyerang tunggal pada saat ini," kata kepala polisi St. Cloud, William Blair Anderson, Minggu, di sebuah konferensi pers, seperti dikutip The Washington Post, Selasa (20/9/2016).
 
10 orang luka-luka dalam serangan itu,-delapan pria dan dua wanita, berusia antara 15 dan 53- mereka selamat, termasuk seorang pria 21 tahun warga St. Cloud yang diidentifikasi polisi Senin malam, dan yang tidak dihitung dalam laporan sebelumnya.
 
Polisi tidak memastikan nama Adan sebagai tersangka, tetapi ayahnya, Ahmed Adan, dan beberapa warga kota komunitas Somalia-Amerika mengidentifikasinya sebagai penyerang.
 
Adan, yang nama keluarganya dieja oleh media massa sebagai Aden, pindah bersama keluarganya dari Kenya ke AS pada usia dua tahun dan dibesarkan di St. Cloud, kata Abdul Kulane, dari Organisasi Pemberdayaan Komunitas Sentral Minnesota (Central Minnesota Community Empowerment Organization). Dia lulus dari SMA Apollo pada 2014.
 
Adan seorang atlet ulung dalam basket dan sepakbola, kata Khader Omar, salah satu teman sekelas Adan di SMA Apollo yang berimigrasi dari Somalia enam tahun silam. Di SMA dengan beragam etnis, para pengganggu kadang-kadang menyiksa beberapa siswa Somalia, kata Omar, meskipun dia menambahkan dirinya tidak tahu apakah Adan pernah jadi sasaran.
 
Adan kemudian mendaftar di St. Cloud State University untuk kuliah sistem informasi, dan kira-kira sudah setengah jalan menempuh studinya, kata seorang juru bicara sekolah. Adan telah terdaftar di sekolah itu untuk satu semester musim semi 2016, tapi tidak terdaftar untuk musim gugur.
 
Adan dipekerjakan sebagai penjaga keamanan oleh Securitas Security Services, kontraktor keamanan di mana dia bekerja paruh waktu, kata seorang juru bicara perusahaan.
 
Kontraktor itu menugaskannya ke kompleks pabrik Electrolux, pabrikan alat rumah tangga asal Swedia dan peralatan rumah lainnya, yang menempati suatu bangunan luas berbentuk gudang-gudang bercat putih di St. Cloud dikelilingi oleh pagar kawat berduri di sepanjang jalur kereta api. Perusahaan mengatakan Adan mengundurkan diri pada Juni, tetapi tidak mengatakan apa sebabnya.
 
Adan tinggal di sebuah apartemen bata tiga lantai kurang dari dua mil dari mal, di mana beberapa penduduk mengatakan sebagian besar, kalau tidak semua, mereka bertetangga sesama orang Somalia. Tiga tetangga menegaskan bahwa Adan tinggal di sana, tetapi tidak mau memberikan informasi tambahan. "Tidak ada yang bisa bicara sekarang," kata seorang pria dari pintu apartemennya.
 
Seorang lain yang berdiri di luar gedung, di mana tirai-tirai rusak tergantung di sejumlah jendela, mengatakan kepada wartawan: "Apakah Anda punya anak? Jelas Anda tidak tahu apa ini jadinya bagi mereka".
 
Beberapa dari komunitas Somalia di Minnesota telah lama menyatakan kecurigaan atas penegakan hukum dan tuduhan bahwa mereka telah dicap sebagai teroris oleh pemerintah.
 
Profil Facebook yang tampil sebagai Adan menggambarkan seorang pemuda dengan kehidupan di Minnesota yang relatif biasa, unggahan foto yang menunjukkan dia berpose dalam pakaian bagus dilengkapi dasi kupu-kupu hitam. Dia mengeluh tentang salju musim dingin, mengambil foto narsis sebelum perjalanan musim semi ke Chicago dan, terakhir Maret lalu, memposting foto dirinya bermain sepakbola di tempat parkir, "menikmati waktu musim panas di rumah saya di Minnesota."
 
Dia berharap teman-temannya gembira di hari libur di akhir Ramadhan dan memposting hal ceria lainnya, termasuk lelucon tentang Muslim yang minum dan merokok tapi tidak makan daging babi. Pada 2014, dipostingnya foto diri mengenakan kaus dengan kata-kata "Saya Muslim. Jangan Panik. "
 
Tetapi laman Facebook juga tampaknya mengungkapkan seorang pemuda dengan kehidupan di dua dunia yang berbeda. Adan memposting cerita tentang pertumpahan darah di Chicago dan tampaknya menunjukkan itu lebih kejam daripada Mogadishu, ibukota Somalia. Dia menggunggah gambar dalam mendukung Ikhwanul Muslimin Mesir. Dia menempuh perjalanan ke Kenya, tahun lalu. Dia memposting foto seekor unta dan menulis status bahwa dia kangen rumah.
 
Rumor beredar pada Senin di antara warga komunitas Somalia yang berhubungan erat di kota itu. Beberapa orang khawatir meningkatnya ketegangan akan terarah kepada Muslim, juga bertanya-tanya apa yang menyebabkan serangan. Beberapa kali Adan telah berurusan dengan polisi lantaran pelanggaran lalu lintas ringan, Anderson, kepala polisi St. Cloud, berkata Senin.
 
Abdi Nor Adan, seorang mahasiswa Somalia-Amerika 27 tahun yang tidak bertalian saudara dengan Adan, mengatakan, "Banyak orang mengatakan dia dulu keren, seorang pria yang baik."
 
Adan mulai serangan lewat pukul 20:00 Sabtu ketika dia melukai seorang pembeli dengan pisau yang "cukup besar untuk menyakiti seseorang," kata Anderson, kepala polisi St. Cloud.
 
Selama keributan, Adan menerjang Jason Falconer, seorang polisi paruh-waktu di kota kecil Avon, 15 mil sebelah barat St. Cloud, kata Walikota Dave Kleis. Falconer menembak beberapa kali ke arah Adan, yang berjuang untuk bangkit tiga kali sebelum dia tewas, petugas mengatakan, mengacu pada video pengawas yang belum pernah dirilis.
 
Corey Nellis, kepala polisi Avon, mengatakan pada konferensi pers, Senin, bahwa "campur tangan ilahi" yang membawa Falconer ke mal pada saat kejadian. Falconer, katanya, adalah penembak andal dan instruktur senjata api.
 
"Jika saya meminta siapa pun untuk menembakkan senjata di mal yang ramai, saya percaya kemampuannya melebihi siapa pun," ucap Nellis. 
 
"Dia adalah orang yang tepat di tempat yang tepat pada waktu yang tepat pada Sabtu malam untuk mencegah kejadian ini semakin buruk," tutup Nellis.



(FJR)