Trump Melenceng dari Nilai Amerika, Obama Siap Mengkritik

Arpan Rahman    •    Senin, 21 Nov 2016 15:54 WIB
barack obama
Trump Melenceng dari Nilai Amerika, Obama Siap Mengkritik
Presiden Barack Obama siap beri kritikan kepada Donald Trump (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Lima: Presiden Barack Obama berkata, dia tidak berniat menjadi kritikus konstan bagi penggantinya. Tapi merasa berhak bersuara bila Presiden terpilih Donald Trump atau kebijakannya melanggar "nilai-nilai atau cita-cita" Amerika Serikat (AS).
 
Ia menjabarkan pemikiran yang jarang ditunjukkan tentang pascakepresidenannya. Obama menyiratkan setelah meletakkan jabatan akan mencoba menjunjung tinggi tradisi mantan presiden: bergeser ke samping diam-diam guna membuka ruang bagi penerus mereka untuk memerintah. 
 
Pujiannya tercurah kepada mantan Presiden George W Bush. "Ia begitu ramah kepada saya ketika saya muncul," katanya, seperti dilansir The Independent, Senin (21/11/2016). 
 
Obama ingin memberikan Trump kesempatan yang sama untuk mengejar agendanya "tanpa seorang pun yang menyela" di setiap kesempatan. Tapi dia memberi kesan mungkin ada batasnya untuk diam.
 
"Sebagai seorang warga negara Amerika yang sangat peduli tentang negeri kami, jika ada masalah yang kurang dilakukan dengan spesifik atas beberapa usulan legislatif atau peperangan atau menimbulkan pertanyaan inti tentang nilai-nilai dan cita-cita kami. Dan jika saya berpikir bahwa memang perlu atau bermanfaat bagi saya untuk membela cita-cita tersebut, saya akan memeriksanya bila itu terjadi," kata Obama.
 
Presiden AS bersemangat bicara menentang seruan Trump melarang imigran Muslim, mendeportasi jutaan orang yang tinggal di AS secara ilegal, membatalkan "Obamacare," dan membatalkan kesepakatan iklim Paris, untuk menyebut beberapa soal. 
 
Berbagai usulan kebijakan seperti itu telah memicu ketakutan bagi banyak orang Amerika yang menentang Trump. Mereka berharap oposisi bergelora dari Obama dan aktivis Demokrat lainnya mungkin mencegah Trump.
 
Namun Obama menyatakan kalau ia mungkin tidak selalu menahan lidahnya bersuara, tujuannya bukan untuk menghabiskan waktunya agar publik meremehkan penggantinya.
 
"Tujuan saya adalah, tentu saja untuk dua bulan ke depan, hanya menyelesaikan pekerjaan saya," kata Obama. 
 
"Dan setelah itu, mengajak Michelle berlibur, istirahat, menghabiskan waktu dengan anak-istri, dan menulis, menuangkan beberapa pokok pikiran," pungkasnya.
 
Bush, seperti banyak mantan presiden dalam sesuatu yang telah menjadi tradisi, benar-benar menghindari opini politik selama delapan tahun kepresidenan Obama. Mantan Presiden Bill Clinton, setelah pensiun, memusatkan perhatiannya pada isu-isu kemanusiaan global, terutama karena istrinya memasuki kancah politik. Mantan Presiden Jimmy Carter lebih vokal dalam pandangannya pasca-berkuasa di Gedung Putih, sesekali mengaduk kontroversi dengan komentar-komentar yang mengecam Israel.
 
Pernyataan Obama pada konferensi pers di Lima, Peru, menawarkan beberapa indikasi yang paling spesifik untuk menunjukkan bagaimana perasaannya sebagai anggota Partai Demokrat dan seteru yang harus dihadapi Trump empat tahun ke depan. Saat ditanya apakah para Demokrat di Senat harus mengikuti contoh Republik yang menolak mempertimbangkan calon Ketua Mahkamah Agung, Obama menjawab, itu tidak seharusnya.
 
"Kamu harus memberi kesempatan dengar pendapat," kata Obama, yang nominasinya sendiri untuk posisi Ketua Mahkamah Agung, Merrick Garland, telah tertahan selama lebih dari setengah tahun karena desakan GOP bahwa tidak ada calon Obama yang layak dipertimbangkan. 
 
Obama mengatakan, ia tentu tidak ingin Demokrat mengadopsi taktik yang dipelopori tahun ini oleh Pemimpin Mayoritas Senat, Mitch McConnell.
 
"Tidak masalah, masyarakat Amerika mengirim kami ke Washington, untuk bermain-main," kata Obama.
 
Pernyataan Obama menjadi pamungkasnya pada tur dunia terakhirnya sebagai presiden. Hari terakhirnya di Peru, diisi Obama dengan bercakap-cakap selama empat menit dengan Presiden Rusia Vladimir Putin tentang krisis Ukraina dan Suriah, meskipun Obama mengatakan tuduhan AS bahwa Moskow berusaha mempengaruhi pemilu AS tidak dijawab. 
 
Putin, kemudian berbicara di Lima, mengatakan ia dan Obama memiliki hubungan kerja yang sulit tapi "selalu menghormati posisi masing-masing -- dan satu sama lain."Dia bilang dia berterima kasih kepada Obama dan menjanjikan bahwa Obama akan diterima di Rusia "kapan saja."
 
Pertanyaan tentang Trump membuntuti Obama sepanjang perjalanan ke luar negeri terakhirnya, sewaktu para pemimpin dunia yang cemas bertanya padanya mengenai sikap Trump soal perdagangan, kebijakan luar negeri, dan aliansi NATO. Obama berusaha meyakinkan para pemimpin Australia, Kanada, dan sekutu AS lainnya bahwa hubungan panjang mereka selama ini dengan Amerika tidak akan goyah di bawah Trump.

 
 


(FJR)

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

1 day Ago

Perdana Menteri Italia Metteo Renzi mundur dari jabatannya setelah gagal menang dalam referendum…

BERITA LAINNYA