Debat Capres AS 2016

Obama Sebut Retorika Cabul Trump Sangat Mengganggu

Willy Haryono    •    Senin, 10 Oct 2016 07:10 WIB
pemilu as
Obama Sebut Retorika Cabul Trump Sangat Mengganggu
Presiden AS Barack Obama dalam acara penggalangan dana di Chicago, Illinois, 9 Oktober 2016. (Foto: AFP/JIM WATSON)

Metrotvnews.com, Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengomentari kontroversi terbaru dari Donald Trump, yang mengeluarkan pernyataan merendahkan wanita secara umum. 

Dalam rekaman video yang diambil pada 2005 dan dirilis kantor berita The Washington Post, Trump membanggakan kemampuannya dalam menundukkan seorang wanita. 

"Pernyataan itu menunjukkan dirinya merasa tidak aman sehingga dia merendahkan orang lain. Bukan sifat seseorang yang saya sarankan untuk menjadi presiden" ujar Obama dalam sebuah acara penggalangan dana di Chicago, seperti dikutip The Guardian, Minggu (9/10/2016). 

"Retorika luar biasa (kasar) dari Trump sangat mengganggu," sambung dia. Sembari tertawa, Obama mengatakan dirinya tidak perlu mengulang pernyataan kotor Trump karena terdapat banyak anak-anak di ruangan. 

Salah satu pernyataan cabul dari Trump itu adalah saat dirinya menceritakan pengalamannya mendekati wanita. Ia mengaku pernah mencoba berhubungan seks dengan seorang wanita yang sudah menikah. 

"(Saat mendekati wanita) cium saja. Saya tidak pernah menunggu. Saat Anda seorang bintang, mereka akan membiarkannya begitu saja. Anda dapat melakukan apapun," ungkap Trump, yang juga melontarkan kata-kata cabul lainnya terkait wanita. 

Setelah video tersebut rilis ke publik, Trump langsung membuat permohonan maaf resmi. Ia mengaku bersalah dan berjanji akan menjadi pria yang lebih baik. 

Gelombang kritik berdatangan, bahkan dari internal Partai Republik. Beberapa petinggi Republik mengaku tidak akan memilih Trump dalam pemilihan umum pada November mendatang, dan hanya akan menuliskan nama Mike Pence dalam kartu suara. Pence adalah calon wakil presiden pendamping Trump. 

Meski terus diserang, Trump menegaskan tidak akan pernah mundur dari pilpres.

Koresponden The Washington Post Robert Moore mengatakan, rekaman video ini bisa menjadi amunisi bagi Hillary Clinton pada debat Presiden AS kedua Minggu 9 Oktober atau Senin 10 Oktober waktu Indonesia.


(WIL)