Berubah 180 Derajat, Trump Sebut NATO Tidak Lagi Usang

Willy Haryono    •    Kamis, 13 Apr 2017 11:14 WIB
nato
Berubah 180 Derajat, Trump Sebut NATO Tidak Lagi Usang
Presiden AS Donald Trump (kanan) bersama Sekjen NATO Jens Stoltenberg di Gedung Putih, Washington, 12 April 2017. (Foto: NICHOLAS KAMM)

Metrotvnews.com, Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) sudah bukan lagi organisasi usang, dan dirinya kini berkomitmen terhadap aliansi tersebut. 

Sebelum dilantik menjadi presiden pada Januari, Trump mempertanyakan relevansi dari NATO. Ia menyebut NATO, yang didirikan setelah Perang Dunia II, sebagai organisasi usang karena didesain di masa lalu.

"Dan negara-negara (anggota) juga tidak membayarkan kontribusi seperti seharusnya," sebut Trump ketika itu. 

Namun kini Trump berubah 180 derajat, dan menyebut Trump sebagai "benteng perdamaian dan keamanan internasional." Namun ia tetap meminta negara-negara anggota untuk menyisihkan dua persen dari pendapatan total untuk pertahanan NATO dalam rentang waktu satu dekade. 

"Jika mereka membayar porsi mereka dan tidak terlalu bergantung kepada AS, maka kita semua akan menjadi lebih aman," ujar Trump kepada awak media usai konferensi pers gabungan dengan Sekjen NATO Jens Stoltenberg di Gedung Putih, Washington, seperti dikutip Sky News, Rabu 12 April 2017.

Krisis Suriah

Dalam kesempatan sama, Trump mengakui bahwa AS "sama sekali tidak akur dengan Rusia" dan hubungan kedua negara saat ini mungkin berada di titik rendah. Hal ini terkait perbedaan posisi dalam menyikapi serangan kimia di Suriah yang menewaskan 87 orang, puluhan di antaranya anak-anak.

Trump berharap dapat memperbaiki hubungan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, namun saat ini masih akan menunggu "apa yang akan terjadi selanjutnya."

Rusia menggunakan hak veto dalam memblokade resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DKK) yang dibuat untuk mengecam serangan kimia mematikan di Suriah. 

Ini merupakan kali kedelapan Rusia menggunakan hak veto di DK PBB untuk melindungi pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad. 

Sejumlah negara menuduh Suriah berada di balik serangan kimia tersebut. Damaskus membantahnya, dan Rusia menyebut kematian diakibatkan kebocoran gas dari sebuah gudang berisi bahan kimia milik oposisi yang hancur terkena serangan udara.

 


(WIL)