Debat Capres AS 2016

Trump Tuduh Teman-Teman Clinton Juga Mengemplang Pajak

Willy Haryono    •    Senin, 10 Oct 2016 10:16 WIB
pemilu as
Trump Tuduh Teman-Teman Clinton Juga Mengemplang Pajak
Donald Trump dalam debat kedua capres AS di Washington University, St Louis, 9 Oktober 2016. (Foto: AFP/PAUL J. RICHARDS)

Metrotvnews.com, St Louis: Donald Trump mengakui dirinya memang mengemplang pajak dengan memanfaatkan aturan perpajakan di Amerika Serikat (AS). 

Dengan mendeklarasikan kerugian hingga hampir USD1 miliar atau setara Rp11 triliun pada 1995, Trump dapat menghindari kewajiban membayar pajak secara legal selama lebih kurang lebih 18 tahun. Sesuai aturan perpajakan AS, seorang pengusaha dapat mengimbangi (offset) antara nilai profit dengan kerugiannya.

Dalam debat kedua calon presiden AS, moderator Andersoon Cooper dan Martha Raddatz meminta konfirmasi dari Trump apakah dirinya memang sengaja tidak membayar pajak negara. 

"Tentu saja. Tentu saja saya melakukannya," ujar Trump, sembari menuduh teman-teman Hillary Clinton juga melakukan hal serupa. 

"Saya memahami aturan pajak lebih baik dari siapapun yang pernah mencalonkan diri menjadi presiden," tegas pengusaha yang diusung Partai Republik itu.

Clinton merespons serangan Trump. Ia mengaku tak habis pikir mengapa orang-orang harus mendengarkan seseorang yang tidak membayar pajak selama belasan tahun.

Ia kemudian memaparkan rencananya jika terpilih menjadi presiden. Ia tidak akan menaikkan pajak bagi rumah tangga yang penghasilan per tahunnya berada di bawah USD250 ribu. Rencana lainnya adalah mengakhiri retribusi pajak perusahaan, meningkatkan bea tambahan bagi pendapatan di atas USD5 juta dan lainnya. 

"Saya ingin berinvestasi kepada Anda semua. Saya ingin berinvestasi kepada keluarga pekerja," tegas Clinton.

"Orang seperti Donald tidak membayar pajak, tidak berkontribusi terhadap kesejahteraan para veteran, terhadap militer, sektor kesehatan dan pendidikan. Itu merupakan sebuah kesalahan," sambung dia. 

Mike Pence, cawapres dari Republik, pernah membela Trump terkait laporan pajak yang dirilis The New York Times. Pence menyebut Trump hanya memanfaatkan aturan pajak yang ada agar bisnisnya tetap berjalan. 

Selain soal pajak, Trump kian terpuruk setelah Jaksa Agung New York Eric Schneiderman menyatakan bahwa yayasan Trump telah melanggar aturan. Schneiderman memerintahkan agar kegiatan penggalangan dana di yayasan tersebut segera dihentikan. 

 


(WIL)

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

22 hours Ago

Bali Democracy Forum (BDF) IX resmi ditutup. Sejak pertama kali diadakan pada 2008, tingkat keikutsertaan…

BERITA LAINNYA