Shutdown Berkepanjangan, PNS AS Andalkan Makanan Gratis

Willy Haryono    •    Rabu, 23 Jan 2019 11:50 WIB
amerika serikatdonald trump
Shutdown Berkepanjangan, PNS AS Andalkan Makanan Gratis
Seorang pegawai federal menerima bantuan makanan gratis di Barclays Center, Brooklyn, New York, AS, 22 Januari 2019. (Foto: AFP/Getty/Drew Angerer)

New York: Sebagian besar pegawai federal Amerika Serikat (AS) selama ini tidak terlalu membutuhkan bantuan makanan gratis. Namun sejak shutdown, atau penutupan sebagian institusi pemerintah AS berlangsung sebulan lalu, sebagian dari mereka terpaksa mengantre di tempat pembagian makanan.

Shutdown telah membuat sekitar 800 ribu pegawai federal dipaksa mengambil cuti, atau bekerja tanpa dibayar. Situasi ini dipicu masalah proposal dana pembangunan tembok di perbatasan AS-Meksiko yang diajukan Presiden Donald Trump ke Kongres. Partai Demokrat menolak proposal tersebut.

Puluhan pegawai federal dari badan perpajakan, bea cukai dan lainnya terlihat mengantre di antara kerumunan orang di lokasi pembagian makanan di Brooklyn, New York, Selasa 22 Januari. Mereka sudah tidak bekerja sejak shutdown dimulai pada 22 Desember.

Beberapa pegawai yang dinilai "esensial" seperti staf transportasi atau sipir penjara dipaksa untuk tetap bekerja tanpa upah. Mereka memanfaatkan istirahat makan siang untuk keluar kantor dan mengantre makanan gratis.

Sejumlah relawan menata meja untuk menaruh berbagai kebutuhan pokok di Barclays Center, yang biasanya dipakai untuk acara konser atau olah raga. Mereka yang datang diminta mendaftar terlebih dahulu, untuk kemudian mengisi kantong plastik yang telah dibawa sebelumnya dengan makanan kaleng, susu, kentang, ayam, anggur dan alat-alat kebersihan.

"Saya datang ke sini untuk mendapatkan beberapa barang," ucap Antoinette Peek-Williams, seorang pegawai federal dari Departemen Keamanan Nasional. Ia datang ke Brooklyn dengan menggunakan kereta bawah tanah dari Harlem.

"Dengan begini saya bisa menghemat uang untuk kebutuhan lain," lanjut wanita 62 tahun itu, seperti dikutip dari laman AFP, Rabu 23 Desember 2019. Dia berharap dapat kembali bekerja pada 1 Februari, meski saat ini belum ada tanda-tanda shutdown akan berakhir.

Chante Johnson, seorang staf administrasi di badan perpajakan AS, juga ikut mengantre di Brooklyn. Ia mengaku terpaksa datang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Saya hanya ingin mereka membuka kembali (pemerintahan). Mulai bernegosiasi dan buka kembali pemerintah," tutur dia, yang mengaku sudah tidak lagi bisa makan sehat sejak shutdown terjadi.

Bagi pegawai yang dipaksa tetap bekerja namun tidak dibayar, situasinya lebih memprihatinkan lagi. "Ini semua semua sangat membuat saya stres," ungkap seorang pegawai federal yang tidak ingin disebutkan namanya. Dia adalah ibu satu anak yang bekerja di sebuah penjara di Brooklyn.

Pembagian makanan di Brooklyn digelar oleh Food Bank for New York City, salah satu organisasi non-profit terbesar di kota tersebut. Francisco Tezen, kepala pengembangan Food Bank, menilai shutdown kali ini rentan mendorong banyak keluarga ke jurang kemiskinan.

"Situasi saat ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ini mirip dengan situasi di mana kami harus bekerja ekstra keras untuk membantu korban bencana alam," kata Tezen.

Baca: Trump Siap Lindungi Imigran Jika Biaya Tembok Disetujui


(WIL)