Mantan Presiden Brasil Nyapres dari Balik Penjara

Arpan Rahman    •    Sabtu, 04 Aug 2018 17:07 WIB
politik brasil
Mantan Presiden Brasil <i>Nyapres</i> dari Balik Penjara
Luiz Inacio Lula da Silva bersama para pendukungnya pada Maret 2018. (Foto: AFP/File / LUCIO TAVORA)

Rio de Janeiro: Meski dari balik jeruji penjara, mantan pemimpin Brasil Luiz Inacio Lula da Silva berhasil mengamankan nominasi calon presiden dari partai sayap kiri pada Sabtu 4 Agustus 2018. 

Ia akan terus membayangi capres lain dalam pemilihan presiden paling tidak terduga di negara itu sejak beberapa dekade terakhir.

Konvensi tiga partai besar berlangsung Sabtu ini, dua bulan sebelum putaran pertama pemilihan umum presiden Brasil pada 7 Oktober mendatang.

Juru kampanye kubu sayap kiri-tengah, Marina Silva, akan mendapatkan nominasi dari partai Rede di Brasil. Di ibu kota, mantan gubernur Sao Paulo dan tokoh mapan Geraldo Alckmin akan mengamankan nominasi dari Partai Sosial Demokrat Brasil atau PSDB yang berhaluan sayap kanan.

Sementara Silva dan Alckmin menjadi pesaing serius dalam pertarungan melawan tokoh sayap kanan kontroversial Jair Bolsonaro.

Partai Buruh, yang didirikan oleh Lula, akan mencalonkan dia dalam upayanya kembali berkuasa di masa jabatan ketiga.

Ia tetap mencalonkan diri meski mulai menjalani hukuman 12 tahun penjara tahun ini atas kasus korupsi. Ia juga kemungkinan akan dilarang komisi pemilihan umum untuk berpartisipasi.

Kendati terjerat kasus dan dipenjara, Lula masih tetap menjadi 'bintang' besar dalam dunia perpolitikan Brasil.

Sejumlah jajak pendapat menunjukkan Lula mendapatkan dukungan hampir dua kali lipat dari semua kandidat utama lainnya di putaran pertama.

Lula dan Partai Buruh, yang mendasari dominasinya terhadap Brasil selama dua periode pada 2003-2010, meyakini dirinya bukan anak kemarin sore.

"Dia masih pemimpin," ungkap Partai Buruh dalam iklan terbarunya, seperti dinukil dari AFP, Sabtu 4 Agustus 2018. Iklan tersebut menampilkan gambar tersenyum Lula yang mengenakan T-shirt hitam dan jas.

Masalah yang dihadapi semua kandidat adalah tingkat partisipasi dan apatisnya para pemilih.

Dua jajak pendapat menunjukkan bahwa 33 atau 41 persen pemilih belum memutuskan atau tidak berpartisipasi dalam pilpres jika Lula tidak mencalonkan diri.


(WIL)