CBS: Mesir Coba Hentikan Penayangan Wawancara Sisi

Arpan Rahman    •    Senin, 07 Jan 2019 16:10 WIB
mesir
CBS: Mesir Coba Hentikan Penayangan Wawancara Sisi
Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dalam kunjungan ke Berlin, Jerman, 30 Oktober 2018. (Foto: AFP/TOBIAS SCHWARZ)

New York: Saluran televisi CBS telah mewawancarai Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dalam program bertajuk '60 Minutes.' Namun saat program itu hendak ditayangkan, CBS mengklaim Mesir berusaha menghalanginya.

Wawancara Sisi di CBS dijadwalkan tayang pada Minggu 6 Januari 2019 malam waktu Amerika Serikat. Dalam wawancara itu, Sisi sempat berbicara mengenai kerja sama Mesir dengan Israel dalam menghadapi kelompok militan Islamic State (ISIS). 

"Benar. Kami bekerja sama dalam berbagai bidang dengan Israel," ucap Sisi dalam potongan wawancara yang dikeluarkan CBS, dan dikutip media Financial Times. Diduga soal Israel inilah yang menyebabkan Mesir berusaha mencegah penayangan wawancara.

Isu Israel masih menjadi sesuatu yang sensitif di Mesir. Meski kedua negara sudah menandatangani perjanjian damai pada 1978, masih banyak warga Mesir memandang Israel sebagai musuh dan penjajah di tanah Arab.

Berita mengenai kerja sama Mesir dan Israel dalam menghadapi ISIS di Sinai telah beredar luas di media sejak setahun terakhir. Artikel di New York Times pada Februari 2018 menyebutkan bahwa Israel melancarkan sedikitnya 100 serangan udara terhadap ISIS di tanah Mesir dengan seizin Sisi. Mesir membantah artikel New York Times kala itu. 

Sejauh ini, Kairo belum merespons klaim CBS mengenai wawancara Sisi. Dalam program di CBS itu, Sisi diwawancarai oleh jurnalis bernama Scott Pelley pada September lalu. CBS menyebut duta besar Mesir di AS sempat menghubungi pihaknya untuk tidak menayangkan wawancara.

CBS tidak menyebutkan alasan mengenai penayangan wawancara Sisi ditunda cukup lama. Wawancara dilakukan saat Sisi datang ke New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sisi, mantan menteri pertahanan, memimpin kudeta di Mesir pada 2013. Di bawah kepemimpinannya, pemerintah Mesir banyak menangkap orang, yang sebagian besar adalah terduga ekstremis. Namun seiring berjalannya waktu, pemerintahan Sisi juga kerap menangkap kritikus, blogger hingga jurnalis yang dianggap membahayakan keamanan nasional.


(WIL)