Cerita Alumni Fulbright Salat di Katedral, Bukti Kuatnya Toleransi di AS

Marcheilla Ariesta    •    Selasa, 07 Nov 2017 15:31 WIB
indonesia-as
Cerita Alumni Fulbright Salat di Katedral, Bukti Kuatnya Toleransi di AS
Ayu Kartika Dewi, alumni beasiswa Fulbright asal Indonesia (berbaju merah) (Foto: Marcheilla Ariesta/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Diperlakukan semena-mena di Amerika Serikat (AS) menjadi ketakutan para pelajar Muslim Indonesia yang ingin belajar di sana. Namun, hal ini dipatahkan Ayu Kartika Dewi, alumni beasiswa Fulbright asal Indonesia.
 
Ayu menuturkan, toleransi antarumat beragama di Negeri Paman Sam sangat kuat. Hal ini dibuktikan dengan bolehnya dia melakukan salat di Katedral saat menempuh pendidikan di Universitas Duke, North Carolina.
 
Co-founder Yayasan Sabang Merauke ini tak menampik ketakutan tersebut sempat ada di pikirannya. Namun, dia mengaku ketakutannya hilang saat sudah tiba di negeri adidaya tersebut.
 
Ayu berkuliah di Universitas Duke yang berlokasi di North Carolina. Dia mendapatkan beasiswa Fullbright pada tahun 2015 lalu, dan mengeyam pendidikan di sana untuk mendapatkan gelar Master selama kurang lebih dua tahun.
 
Berbicara saat diskusi yang digelar American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF), Ayu mengatakan dia tidak pernah mendapatkan perlakuan rasial dari teman-teman kuliahnya, atau dari warga sekitar tempat dia tinggal.
 
"Saya tidak merasakan pengalaman (rasial) apapun, saya hanya merasakan sikap menerima dari mereka," ungkap Ayu, saat ditemui di Jakarta, Selasa, 7 November 2017.
 
Dia menceritakan, insiden penembakan terhadap tiga warga Muslim AS tahun lalu, yang ternyata tidak jauh dari tempat dia tinggal. Namun, pendekatan warga setempat, dan teman-temannya membuat dia merasa aman.
 
"Mereka bertanya kepada saya, apakah saya takut, dan bantuan apa yang merka bisa berikan kepada saya. Hal ini benar-benar membuat saya terharu," ungkapnya.
 
Mengenai suasana kampus, Ayu mengatakan dia memiliki seorang sahabat yang beragama Katolik, dan dia sering ke Katedral untuk mengantar temannya beribadah. "Untuk ibadah salat Jumat, Katedral di kampus dijadikan masjid, karena disana tidak ada masjid," ungkapnya.
 
Terkait keputusanya untuk tetap berkerudung selama berkuliah di AS, Ayu menjabarkan hal ini menjadi keuntungan tersendiri baginya. "Saya secara langsung menjadi Duta bagi Islam, dan dapat menjelaskan mengenai Islam yang sebenernya, bahwa kami tidak berbeda dengan orang lain, dan memiliki ketakutan yang sama mengenai teroris," ungkapnya.
 
Juru Bicara Kedutaan AS di Indonesia Rakesh Surampudi, yang ditemui di tempat yang sama mengatakan, program beasiswa Fulbright merupakan wadah yang dapat memperkuat hubungan dua negara. Dia menuturkan bahwa penerima beasiswa Fulbright merupakan seorang pencerita.
 
"Mereka bisa menjadi stroy teller bagi orang-orang yang mereka ajarkan atau mereka temui di negara asalnya. Bagaimana kehidupan mereka di AS bisa menginspirasi orang lain untuk saling belajar," ungkapnya.
 
Program Fullbright sudah ada di Indonesia sejak 65 tahun lalu. Beasiswa ini lahir pada tahun 1946, dan mengambil nama dari orang yang mengusulkan beasiswa yakni mendiang Senator J. William Fulbright. Beasiswa ini diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1952, dan salah satu penerima pertama beasiswa ini adalah H. Agus Salim.
 
Di Indonesia, beasiswa Fulbright dikelola oleh AMINEF. Kini, AMINEF sudah mengirim sekitar 80 hingga 100 warga Indonesia ke AS setiap tahunnya. Jumlah ini, ujar Alan, merupakan salah satu yang terbesar di kawasan Asia Timur dan Pasifik.


(FJR)