Trump: Ambil Senjatanya Dulu, Proses Hukum Belakangan

Arpan Rahman    •    Kamis, 01 Mar 2018 18:07 WIB
pemerintahan as
Trump: Ambil Senjatanya Dulu, Proses Hukum Belakangan
Presiden AS Donald Trump indikasikan dukung pengambilan senjata dari sosok yang dianggap berbahaya (Foto: AFP).

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mengindikasikan bahwa dia mendukung pengambilan senjata api dari orang-orang berbahaya sekalipun jika melanggar hak hukum mereka.
 
"Ambil senjata apinya dulu dan kemudian ke pengadilan," kata Trump saat bertemu dengan para senator di Gedung Putih membahas keselamatan sekolah umum.
 
"Saya suka mengambil senapan lebih awal, seperti kasus orang gila, mengambil senjatanya dahulu, nanti urusan prosesnya," lanjut presiden, seperti disitir Independent, Kamis 1 Maret 2018.
 
Trump menanggapi komentar dari Wakil Presiden Mike Pence bahwa keluarga dan penegak hukum setempat harus memiliki lebih banyak peranti untuk melaporkan individu yang berpotensi berbahaya dengan senjata.

"Izinkan proses hukum sehingga hak seseorang tidak dilangkahi, tapi kebolehan untuk ke pengadilan, mendapatkan perintah dan kemudian mengumpulkan tidak hanya senjata api, tapi juga senjata lain," kata Pence.
 
"Atau, Mike, ambil senjata api dulu, baru ke pengadilan," Trump menjawab sebelum menambahkan komentarnya tentang "mengambil senjatanya lebih awal".
 
Pernyataan presiden tersebut merupakan gagasan terakhir yang dipresentasikan menyusul penembakan massal di Parkland, Florida, di mana 17 orang tewas di Marjory Stoneman Douglas High School, dua pekan lalu.
 
Trump juga sudah menyuarakan dukungan menaikkan usia minimum untuk membeli sebuah senapan ke 21 dari 18 tahun. Serta mengizinkan guru membawa senjata di sekolah jika mereka memenuhi syarat.
 
Terlepas dari itu, komentar tersebut kemungkinan akan mengundang amarah anggota Asosiasi Senjata Nasional (NRA). Banyak di antaranya yang gigih melindungi hak Amandemen Kedua -- dan menentang sebagian besarnya jika bukan semua proposal -- untuk pembatasan senjata api individu.
 
Kontrol senjata telah menjadi topik yang sangat diperdebatkan sejak penembakan dua pekan lalu. Diteriakkan oleh korban selamat dari pembantaian Hari Valentine tersebut. Para siswa, segera sesudah penembakan, menarik liputan media untuk memenangkan pesan kontrol pro-senjata, yang menjanjikan bahwa penembakan tersebut akan menjadi insiden massal terakhir di sekolah.
 
Salah satu tindakan pertama Trump setelah penembakan mengenai kontrol senjata adalah mengumumkan bahwa dia telah menginstruksikan Departemen Kehakimannya mulai menerapkan pelarangan atas apa yang disebut persediaan senjata ‘bump stock’, yang memungkinkan senapan semiotomatis menembak mencapai kecepatan otomatis
 
Penembak yang dicurigai dalam pembantaian Parkland tidak menggunakan bump stock. Tapi, penembakan paling mematikan dalam sejarah AS modern menggunakan perangkat seperti itu ketika 58 orang tewas di Las Vegas, akhir tahun lalu.
 
Tidak jelas apakah Trump akan dapat melarang urusan tersebut. Namun, karena hal itu dilakukan oleh pemerintahan mantan Presiden Barack Obama, pada akhirnya dia bertekad untuk membuat gagasan di luar hukum.
(FJR)