AS Terus Didesak Lacak Komunikasi Fethullah Gulen

Arpan Rahman    •    Sabtu, 15 Jul 2017 22:26 WIB
politik turki
AS Terus Didesak Lacak Komunikasi Fethullah Gulen
Fethullah Gulen dituduh sebagai otak kudeta gagal di Turki pada 15 Juli 2016 lalu (Foto: NPR).

Metrotvnews.com, Washington: Otoritas Amerika Serikat (AS) harus melacak lewat komunikasi yang tersadap dari Fethullah Gulen. Gunanya mencari bukti yang mendukung tuduhan Turki bahwa ulama tersebut mengatur kudeta yang gagal tahun lalu. Hal itu dikatakan Duta Besar Turki untuk Washington, pada Jumat 14 Juli 2017.
 
Dalam sebuah wawancara dengan Reuters hampir setahun setelah upaya tersebut, Duta Besar Turki untuk Washington Serdar Kilic, pada Jumat 14 Juli 2017mengungkapkan rasa frustrasinya atas tanggapan AS yang menghambat permintaan ekstradisi Gulen. Ia mendesak Washington agar menggunakan kemampuan pengumpulan datanya demi membantu pembuktian tuduhan Ankara terhadap dirinya.
 
"Mereka seharusnya membantu kami dalam hal ini. Kami tidak memiliki otoritas intelijen nasional di Amerika Serikat," katanya di Kedutaan Turki, seperti dilansir Reuters, Sabtu 15 Juli 2017.
 
Pemerintahan Presiden Donald Trump menghiraukan permintaan ekstradisi Turki "lebih serius" daripada pendahulunya, Barack Obama. Kilic mengatakan itu pada sebuah konferensi pers, Jumat. Namun dia tidak menjelaskan secara rinci.
 
Kilic menyebut bahwa AS tidak mengatakan apapun tentang Gulen, yang menyangkal adanya keterlibatan dalam usaha kudeta 15 Juli 2016.
 
Mengutip pengakuan beberapa komplotan kudeta dan para jamaah yang dikatakan Kilic bahwa mereka menemui Gulen di kompleksnya di Pennsylvania -- pada hari-hari menjelang kudeta yang gagal -- sebagai bukti bahwa ulama berusia 79 tahun berada di belakang kudeta. Upaya perebutan kekuasaan tersebut mengakibatkan lebih dari 240 orang tewas.
 
Namun, Kilic mengakui dalam wawancara Reuters bahwa bukti nyata keterlibatan langsung Gulen, yang sudah tinggal di pengasingan sejak 1999, tetap sulit dipahami.
 
"Jika Anda menanyakan instruksi tertulis oleh Fethullah Gulen kepada anggota Organisasi Teroris Fethullah Gulen dalam ketentaraan, itu akan menjadi permintaan yang sia-sia," kata Kilic. Seraya menambahkan bahwa perencanaan dilakukan secara rahasia.
 
Alp Aslandogan, penasihat media Gulen, mengatakan bahwa ulama tersebut tidak memiliki telepon genggam, jalur darat di kompleksnya dipadati oleh anggota staf dan dia tidak punya email. Ini menunjukkan bahwa upaya melacak komunikasi Gulen mungkin akan percuma.
 
Dia juga berkata tidak melihat adanya tanda-tanda pemerintahan Trump menentukan kasus ekstradisi Gulen sebagai prioritas yang lebih tinggi.
 
Dia mengatakan bahwa pengakuan terhadap komplotan kudeta yang dicurigai melibatkan Gulen dengan tudingan bahwa kesaksian mereka "di bawah tekanan dan kadang-kadang penyiksaan."
 
Ankara sudah berulang kali membantah tuduhan tersebut dengan mengatakan bahwa postur keamanan yang kuat juga menghadapi bahaya yang dihadapi pejuang Kurdi serta perang di negara tetangga, Irak dan Suriah. Departemen Kehakiman AS menolak berkomentar mengenai kasus ini.
 
Ekstradisi terhenti
 
Presiden Tayyip Erdogan mengatakan pada Mei bahwa dia akan terus mengejar "habis-habisan" ekstradisi Gulen dan telah melakukan tindakan keras terhadap para pengikutnya pasca-kudeta.
 
Kilic mengatakan kepada wartawan, Jumat, bahwa pejabat AS telah minta bukti lebih lanjut, di samping 84 berkas dokumen yang tersedia, dan Turki berupaya mematuhinya.
 
Dia sebutkan, sementara itu Turki ingin AS membatasi kebebasan Gulen bergerak. Aslandogan mengatakan seruan pembatasan Gulen, yang tampak lemah dan berjalan dengan menyeret langkahnya, merupakan bagian dari "kampanye pelecehan" oleh pemerintah Turki.
 
Prospek untuk ekstradisi Gulen dari AS muncul pada Februari ketika Michael Flynn mengundurkan diri karena kegagalannya mengungkapkan urusan kontaknya dengan Rusia.
 
Kilic mengaku bertemu dengan Flynn, yang terang-terangan mendukung ekstradisi Gulen, "beberapa kali," menggambarkan Flynn sebagai "visioner". Ia berharap Flynn tetap menjabat.



(FJR)