Politikus Brasil yang Dorong Pemakzulan Rousseff Didepak

Willy Haryono    •    Selasa, 13 Sep 2016 14:48 WIB
politik brasil
Politikus Brasil yang Dorong Pemakzulan Rousseff Didepak
Mantan Ketua DPR Brasil Eduardo Cunha. (Foto: AFP/EVARISTO SA)

Metrotvnews.com, Brasilia: Eduardo Cunha, mantan ketua dewan perwakilan rakyat Brasil, kehilangan kursinya dan dilarang terlibat aktivitas politik selama delapan tahun atas tuduhan mengambil sumpah palsu, terlibat kasus korupsi dan mengganggu proses peradilan.

Cunha didepak setelah anggota DPR Brasil melakukan pemungutan suara, kurang dari dua pekan setelah Presiden Dilma Rousseff dimakzulkan. 

Seperti dikutip AFP, Senin (12/9/2016), hasil pemungutan suara berujung pada kekalahan telak Cunha, yakni 450 suara melawan sepuluh suara dukungan dan sembilan abstain. Lewat suara tersebut, kekebalan parlemen Cunha otomatis terlepas dan dirinya juga terancam dijerat sejumlah kasus kriminal terkait skandal korupsi perusahaan minyak negara Petrobas. 

Politikus yang menyebut dirinya sebagai Frank Underwood-nya Brasil juga dilarang terlibat aktivitas politik selama delapan tahun. Hukuman Cunha lebih berat dari Rousseff, yang disingkirkan dari kursi presiden namun tetap berhak berpolitik. 


Dilma Rousseff. (Foto: AFP)

Dalam pidato terakhirnya di DPR Brasil, Cunha bersikukuh dirinya telah dikorbankan ketimbang didepak karena alasan hukum. Ia mengingatkan akan ada politikus lain yang bernasib serupa. 

"Ini adalah harga yang harus saya bayar untuk membebaskan negara ini dari Partai Pekerja. Mereka membuat saya membayar harga ini karena memimpin proses pemakzulan," tegas Cunha. 

Ancaman Cunha bukan kali pertama dilontarkan pria berumur 57 tahun itu. Ia dikenal sebagai politikus yang meniti kariernya dengan memanfaatkan rahasia sejumlah koleganya. Cunha juga dikenal sebagai politikus yang ditakuti banyak anggota dewan, bahkan dari sesama partainya. 

Mengakhiri 13 tahun kepemimpinannya untuk Partai Pekerja, Rousseff keluar dari Istana Alvorada di Brasilia pada 6 September. Ia dikelilingi sekitar 100 pendukung, beberapa mantan menteri dan pejabat negara. 

Presiden wanita pertama Brasil itu dimakzulkan setelah melewati proses panjang selama sembilan bulan. Michel Temer menggantikan dirinya sebagai presiden hingga pemilihan umum Brasil pada 2018. 


(WIL)