Trump Tawarkan Bantuan untuk Mediasi Krisis Teluk

Arpan Rahman    •    Kamis, 08 Jun 2017 10:39 WIB
kisruh qatar
Trump Tawarkan Bantuan untuk Mediasi Krisis Teluk
Donald Trump tawarkan bantuan atasi krisis diplomatik Qatar (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengulurkan tawaran untuk membantu mengatasi krisis diplomatik yang memburuk antara Qatar dan negara-negara Arab lainnya. 
 
Sementara Uni Emirat Arab menjajaki kemungkinan embargo ekonomi atas Doha karena dugaan mendukung terorisme.
 
Dalam intervensi keduanya berturut-turut selama beberapa hari, Trump mendesak tindakan melawan terorisme dalam sebuah pembicaraan telepon dengan Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad al-Thani
 
"Presiden menawarkan bantuan supaya para pihak menyelesaikan perbedaan mereka, termasuk melalui pertemuan di Gedung Putih jika perlu," demikian sebuah pernyataan Gedung Putih, seperti dikutip Reuters, Kamis 8 Juni 2017.
 
Trump, dalam sambungan telepon berikutnya dengan putra mahkota Abu Dhabi, Sheikh Mohammed bin Zayed al-Nahayan, menyerukan persatuan di antara negara-negara Teluk Arab.  
 
"Namun tidak dengan mengulurkan dana kepada ekstremisme radikal atau harus menundukkan terorisme," kata Gedung Putih.
 
UEA, Arab Saudi, Mesir, dan Bahrain memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, Senin 5 Juni, atas tudingan sejak lama bahwa Doha merangkul Iran, yang mereka anggap sebagai ancaman eksternal terbesar di kawasan, dan mendukung kelompok-kelompok militan, yang dinilai sebagai bahaya internal terbesar.
 
Ketegangan regional, yang sudah tinggi menyusul pertikaian diplomatik tersebut, meningkat sesudah gerilyawan menyerang sasaran di Teheran, pada Rabu, menewaskan sedikitnya 12 orang.
 
Iran menyalahkan musuh bebuyutannya Arab Saudi atas aksi tersebut, yang diklaim oleh kelompok militan Islamic State (ISIS). Pihak Riyadh membantah terlibat.
 
Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir mengatakan negara-negara Teluk bisa menyudahi urusan dengan Qatar di antara mereka sendiri tanpa bantuan dari luar.
 
"Kami belum meminta mediasi, kami yakin masalah ini dapat ditangani di antara negara-negara Dewan Kerjasama Teluk," katanya dalam sebuah konferensi pers bersama mitranya dari Jerman dalam kunjungan ke Berlin yang disiarkan di televisi pemerintah Saudi.
 
Dalam pada itu, penguasa Kuwait Sheikh Sabah Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah melanjutkan upaya regional demi menengahi krisis tersebut, sekembali dari UEA dalam perjalanan ke Qatar, Rabu malam, seperti dikatakan seorang diplomat Kuwait kepada Reuters.
 
Namun upaya meredakan krisis terburuk di antara negara-negara Teluk Arab selama dua dekade tidak menunjukkan kemajuan cepat.
 
UEA mengancam siapa pun warganya yang mengeluarkan ungkapan rasa simpati terhadap Doha hingga 15 tahun penjara dan melarang masuk ke Qatar.
 
Dukungan Turki
 
Qatar mendukung gerakan Islam, tapi dengan keras membantah menyokong terorisme. Sejumlah dukungan muncul di parlemen Turki yang menyetujui sebuah rancangan undang-undang guna memungkinkan pasukannya dikirim ke sebuah pangkalan militer di Qatar. Eksportir Turki juga telah berjanji memasok makanan dan minuman ke Qatar jika dibutuhkan.
 
Menteri pertahanan AS, James Mattis, berbicara kepada mitranya asal Qatar, menyatakan komitmennya terhadap keamanan wilayah Teluk. Qatar melayani 8.000 personel militer AS di al Udeid, pangkalan udara terbesar Paman Sam di Timur Tengah dan sebuah landas pacu untuk serangan armada AS terhadap ISIS.



(FJR)