Obama Resmi Cabut Sanksi Ekonomi AS Terhadap Myanmar

Sonya Michaella    •    Sabtu, 08 Oct 2016 10:34 WIB
aung san suu kyi
Obama Resmi Cabut Sanksi Ekonomi AS Terhadap Myanmar
Aung San Suu Kyi (kiri) ketika berkunjung ke Gedung Putih, September 2016 (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama resmi mencabut sanksi ekonomi terhadap Myanmar. Pencabutan sanksi ini tentu membuka hubungan ekonomi kembali antara AS dan Myanmar.

Obama telah menandatangani pencabutan sanksi tersebut setelah pada bulan lalu ia mengumumkan akan segera mencabut sanksi saat Aung San Suu Kyi melakukan kunjungan ke AS.

Seperti dikutip Asian Correspondent, Sabtu (8/10/2016), saat menemui Obama, Suu Kyi membicarakan sanksi ekonomi dan 'mengundang' AS untuk meraih keuntungan di Myanmar.

"Saya memutuskan bahwa situasi ini (sanksi ekonomi) harus diubah secara signifikan demi kemajuan substansial Myanmar untuk mempromosikan demokrasi," tulis Obama kepada DPR dan Senat AS.

Langkah ini tentu disambut gembira oleh Chamber of Commerce AS, yang pada Mei lalu menyerukan untuk dicabutnya sanksi tersebut. Namun, para aktivis Hak Asasi Manusia tidak setuju. Mereka menyebut pencabutan sanksi tersebut adalah langkah yang tergesa-gesa.

Pencabutan sanksi ekonomi ini dikecam, terutama karena pengaruh militer masih besar dan kejahatan kemanusiaan masih terjadi di Myanmar.

"Waktunya telah tiba untuk menghapus seluruh sanksi yang merugikan perekonomian kami," kata Suu Kyi, saat berkunjung ke Gedung Putih.

Walau memenangkan pemilu, Suu Kyi tidak bisa menjadi presiden karena terhalang peraturan pemerintah peninggalan junta.

Namun Suu Kyi disebut pemimpin bayangan karena menjabat sebagai menteri luar negeri dan menunjuk dirinya sendiri penasihat pemerintah, setara dengan perdana menteri. Suu Kyi juga mendapat perlakuan bak pemimpin negara dalam kunjungannya ke Washington.  


(FJR)

OKI Didesak Turun Tangan Mengatasi Tragedi Al Aqsa

OKI Didesak Turun Tangan Mengatasi Tragedi Al Aqsa

5 hours Ago

OKI diharapkan aktif menghimpun kekuatan negara-negara lain di dunia untuk menghentikan tindakan…

BERITA LAINNYA