Maduro Tuduh Trump Berupaya Membunuhnya

Fajar Nugraha    •    Rabu, 30 Jan 2019 21:04 WIB
konflik venezuelaas-venezuela
Maduro Tuduh Trump Berupaya Membunuhnya
Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengklaim diancam dibunuh Donald Trump. (Foto: AFP).

Moskow: Presiden Venezuela Nicolas Maduro menuduh Presiden Amerika Serikat (AS) mengeluarkan perintah pembunuhan terhadap dirinya. Kekuasaan Maduro saat ini tengah digoyang dengan dukungan AS kepada tokoh oposisi.

Baca juga: Presiden Venezuela Siap Berdialog dengan Pemimpin Oposisi.

Melalui wawancara dengan kantor berita RIA, Maduro menolak desakan untuk dilakukan percepatan pemilu. Dirinya juga memastikan bahwa perintah penahanan terhadap rivalnya, Juan Guaido belum dikeluarkan.

“Tidak diragukan lagi mengeluarkan perintah pembunuhan terhadap diri saya. Dia juga meminta Pemerintah Kolombia serta mafia Kolombia untuk melakukan pembunuhan itu,” ujar Maduro kepada RIA, seperti dikutip AFP, Rabu, 30 Januari 2019.

“Jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap saya, Donald Trump dan Presiden Kolombia Ivan Duque menjadi pihak yang paling bertanggungjawab,” jelasnya.

Perlombaan untuk mencapai kekuasaan di Venezuela semakin memanas ketika pemerintah bersiap untuk melakukan penyelidikan terhadap Juan Guaido,-yang mengklaim sebagai presiden sementara,- serta protes antipemerintah yang tengah direncanakan.

Pemerintahan yang sah

Meskipun perlawanan oposisi terhadap Nicolas Maduro terus memuncak, baik AS dan Kolombia berulangkali membantah tuduhan plot membunuh presiden berusia 56 tahun itu.

Maduro yang disebut-sebut selamat dari percobaan pembunuhan pada Agustus 2018 lalu, menegaskan dirinya dilindungi dengan baik. Namun Maduro menolak anggapan bahwa Rusia mengirimnya tentara bayaran untuk memberikan perlindungan.

Mengenai desakan untuk melakukan percepatan pemilu, Maduro kembali menolak mentah-mentah hal tersebut. Menurutnya pemilu lalu berjalan adil meskipun ada tuduhan kecurangan.

“Saya memenangkan 68 persen suara. Saya memenangkan pemilu dengan adil. Kalau para imperialis menginginkan pemilu baru, mereka harus menunggu hingga 2025,” tegasnya.

Menurut Maduro banyak negara yang menginginkan dialog dengan dirinya. Negara tersebut termasuk, Meksiko, Uruguay, Bolivia, Rusia, Vatikan dan pihak oposisi sendiri.

Maduro pun menyatakan kesediaannya jika Trump ingin bertemu dengannya. Tetapi Maduro menegaskan tidak ingin terlalu terburu-buru.


(FJR)