Washington Post: UEA Buat Berita Palsu untuk Picu Kisruh Qatar

Arpan Rahman    •    Senin, 17 Jul 2017 20:48 WIB
kisruh qatar
Washington Post: UEA Buat Berita Palsu untuk Picu Kisruh Qatar
Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad al-Thani. (Foto: EPA)

Metrotvnews.com, Washington: Uni Emirat Arab (UEA) mengatur peretasan sebuah situs berita pemerintah Qatar pada Mei 2017, dan kemudian menanamkan sebuah berita palsu yang memicu krisis diplomatik Teluk Arab saat ini. Demikian disampaikan dalam sebuah laporan surat kabar Washington Post, Minggu 16 Juli 2017.

Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad al-Thani, dalam berita palsu itu disebut telah memuji Hamas dan mengatakan Iran adalah "kekuatan Islam." 

Sebagai respons dari kutipan Syekh Tamim, Arab Saudi, UEA, Mesir, dan Bahrain memutuskan hubungan diplomatik dan transportasi dengan Qatar pada 5 Juni. Keempat negara itu menuduh Qatar telah mendukung terorisme. 

Qatar mengklarifikasi pada akhir Mei bahwa peretas telah mengunggah pernyataan palsu Syekh Tamim. Namun penjelasan Qatar itu ditepis negara-negara Teluk.

Washington Post melaporkan bahwa badan intelijen Amerika Serikat (AS) telah menganalisis sejumlah informasi yang menunjukkan beberapa petinggi UEA membahas rencana peretasan terhadap Qatar pada 23 Mei, satu hari sebelum eksekusi rencana.

Masih dari laporan Washington Post, para pejabat intelijen AS berkata, belum diketahui pasti apakah UEA meretas atau membayar sejumlah uang agar situs itu mau mengunggah berita palsu. Washington Post tidak mengidentifikasi pejabat intelijen yang diajak berbicara dalam laporannya.

Perang Melawan ISIS Terganggu

Duta Besar UEA Yousef al-Otaiba membantah laporan Washington Post. Ia mengatakan laporan itu "palsu."

"Apa yang benar adalah perilaku Qatar. Membiayai, mendukung, dan mengizinkan ekstremis dari Taliban ke Hamas hingga (Moammar) Gaddafi. Menghasut kekerasan, mendorong radikalisasi, dan merongrong stabilitas tetangganya," kata pernyataan pihak UAE, seperti dikutip France24, Senin 17 Juli 2017.

Krisis Teluk saat ini mengancam mempersulit perjuangan koalisi pimpinan AS dalam melawan kelompok Islamic State (ISIS). Hal ini dikarenakan negara-negara yang terlibat kisruh diplomatik adalah sekutu AS. 

Qatar adalah hunian bagi lebih dari 10.000 tentara AS dan kantor pusat regional Markas Komando Negeri Paman Sam. Sementara Bahrain adalah pangkalan Armada ke-5 Angkatan Laut AS.

Presiden Donald Trump berpihak kepada Arab Saudi dan UEA dalam kisruh diplomati, dengan mendukung pendapat bahwa Doha adalah pendukung ekstremis dan rentan memicu destabilisasi di Timur Tengah. 

Menlu AS Rex Tillerson baru-baru ini dikirim ke Teluk untuk berdiplomasi terkait kisruh Qatar. Namun dia meninggalkan wilayah tersebut tanpa menghasilkan sebuah resolusi.

 


(WIL)