Hillary Clinton Minta Maaf usai Ejek Pendukung Trump

Willy Haryono    •    Minggu, 11 Sep 2016 09:47 WIB
pemilu as
Hillary Clinton Minta Maaf usai Ejek Pendukung Trump
Hillary Clinton (kiri) dan Donald Trump. (Foto: EPA/AFP)

Metrotvnews.com, Washington: Calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat Hillary Clinton meminta maaf karena telah menyebut separuh dari pendukung Donald Trump adalah sekelompok orang-orang "menyedihkan dan berkualitas rendah."

Clinton menyesal telah mengucapkannya, dengan menegaskan dirinya akan terus memerangi "retorika kefanatikan dan rasisme."

"Tadi malam saya terlalu menggeneralisasi, dan itu bukan sikap yang baik. Saya menyesal telah mengucapkan kata 'separuh' - itu perkataan yang salah," ungkap Clinton, seperti dilansir BBC, Sabtu (10/9/2016). 

"Menurut saya, sebagian pendukung Trump adalah pekerja keras yang merasa kurang cocok dengan sistem perekonomian dan perpolitikan Amerika saat ini," sambung dia. 

Usai meminta maaf, Clinton melontarkan serangkaian serangan terhadap Trump. Ia menuduh capres dari Partai Republik itu "menjalankan kampanyenya berdasarkan prasangka buruk dan paranoia. Ia menyayangkan sikap Trump yang kerap me-retweet beberapa ucapan fanatik dan menyebarkannya ke 11 juta orang via Twitter. 

"Para kaum fanatik kulit putih melihat Trump sebagai jawara mereka," ujar Clinton. 

Partai Republik Berang

Merespons ejeken Clinton pada Jumat kemarin, Trump menuliskan balasan di Twitter: "Mungkin (ejekan) itu akan merugikannya saat pemilihan umum berlangsung!" 

Calon wakil presiden Mike Pence menegaskan para pendukung Trump dan dirinya bukan sekelompok orang menyedihkan, melainkan warga Amerika yang harus dihormati.


Donald Trump dan Mike Pence. (Foto: AFP)

Reince Priebus, kepala Komite Nasional Republik, menyebut bahwa ejekan Clinton menunjukkan "sikap ketidaksukaannya terhadap orang biasa."

Ia menambahkan bahwa jutaan warga AS mendukung Trump karena mereka "muak dengan para politikus korup seperti Hillary Clinton."

"Seorang kandidat yang menyebut separuh negara sebagai sekelompok orang menyedihkan harus didiskualifikasi," ujar salah satu pendukung Trump di media sosial.


(WIL)