AS Keluarkan Travel Warning ke Eropa Terkait Ancaman ISIS

Arpan Rahman    •    Selasa, 22 Nov 2016 21:01 WIB
isis
AS Keluarkan <i>Travel Warning</i> ke Eropa Terkait Ancaman ISIS
Ilustrasi paspor dan dolar AS. (Foto: Getty)

Metrotvnews.com, Washington: Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan peringatan perjalanan atau Travel Warning, Senin 21 November waktu setempat. 

Warga AS diminta berhati-hati di festival liburan, acara wisata, dan pasar-pasar tradisional di Eropa dalam beberapa pekan mendatang. Peringatan muncul sehari setelah satuan keamanan Prancis menggagalkan sebuah rencana rahasia terkait kelompok militan Islamic State (ISIS).

Otoritas Prancis menangkap tujuh orang dalam penggerebekan anti-teror di Strasbourg dan Marseilles, Minggu 20 November. Kejadian diungkapkan Menteri Dalam Negeri Bernard Cazeneuve.

Pasar Natal Jadi Target

Strasbourg merupakan tuan rumah bagi salah satu pasar Natal paling terkenal di Eropa, dengan 2 juta orang diperkirakan berkunjung saat dibuka. Media Prancis melaporkan, pasar itu merupakan sasaran potensial bagi sel teroris.

Seperti dilansir Click2Houston dari CNN, Selasa (22/11/2016), pada 2000, pasar Natal di Strasbourg menjadi target rencana teroris al-Qaeda, yang pada akhirnya dapat digagalkan. 

Para pejabat Kemenlu AS mengatakan kepada CNN, peringatan perjalanan terbaru tidak dipicu ancaman spesifik 

"Informasi yang terpercaya menunjukkan ISIS, al-Qaeda, dan afiliasi mereka terus merencanakan serangan teroris di Eropa, dengan fokus pada musim liburan mendatang dan acara terkait. Warga AS juga harus waspada terhadap kemungkinan bahwa simpatisan ekstremis atau ekstremis-tunggal yang radikal dapat melakukan serangan selama periode ini dengan sedikit atau tanpa peringatan. Teroris dapat menggunakan berbagai taktik, memakai senjata konvensional dan nonkonvensional, serta menargetkan kepentingan resmi dan pribadi," bunyi peringatan itu, yang akan berakhir pada 20 Februari 2017.

Jaringan Suriah Diselidiki


Bendera hitam khas ISIS

Menurut sebuah sumber yang terlibat dalam penyelidikan kepada CNN, para penyelidik meyakini orang-orang di balik rencana yang digagalkan di Prancis diarahkan ISIS dari Suriah, 

Sumber itu mengaku, pihak berwenang sedang menyelidiki apakah salah seorang dari individu yang ditangkap selama akhir pekan lalu di Marseilles dan Strasbourg pernah mengadakan perjalanan ke Suriah.

Mereka menduga beberapa di antara yang tertangkap -- kini sudah ditahan -- pernah pergi ke Suriah melalui Siprus, tapi belum menemukan bukti definitif. Sumber kedua, seorang pejabat senior kontraterorisme Prancis, mengatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir, ancaman oleh individu yang dicurigai terkait ISIS di Suriah telah digagalkan.

Para tersangka yang dibekuk di Marseilles dan Strasbourg berusia antara 29 dan 37 tahun asal Prancis, Maroko, dan kebangsaan Afghanistan. Hanya tersangka Maroko yang dikenal penyidik, setelah mereka menerima laporan intelijen dari "negara tetangga."

Pada Juni silam, dua orang terkait kasus ini ditangkap sebagai bagian dari razia.

"Tidak pernah terjadi ancaman teroris begitu tinggi di negara kami. Satuan anti-teroris benar-benar bekerja keras," kata Mendagri Prancis, Cazeneuve. Kasus ini telah diserahkan ke Jaksa Penuntut Umum dari Paris.

Kewaspadaan Tinggi


Pasukan keamanan berpatroli di stasiun kereta api di Strasbourg. (Foto: AFP)

Penangkapan muncul saat kekhawatiran terus meningkat mengenai ancaman teroris ke Prancis. Pada September, Perdana Menteri Prancis Manuel Valls mengatakan level ancaman berada di tingkat maksimum, dan ia mengklaim satuan keamanan telah menggagalkan serangan "setiap hari."

Pejabat senior kontraterorisme Prancis membeberkan kepada CNN bahwa intensifnya operasi kontraterorisme telah mengganggu aktivitas jaringan teror. Sejak serangan di Brussels pada Maret silam, masih ada ancaman serangan radikal ke Prancis, termasuk hasutan atau inspirasi untuk menyerang yang digerakkan ISIS. 

Jumlah ekstremis Islam dalam pantauan pasukan keamanan Prancis telah berkembang menjadi lebih dari 15.000 orang. Muncul kekhawatiran soal pesatnya radikalisasi yang sedang berlangsung. Sebuah investigasi menemukan bahwa penyerang yang mengemudi truk, Mohamed Bouhlel, membunuh 84 korban di Nice pada 14 Juli, menjadi radikal hanya dalam tempo dua bulan. Serangan yang dihasut ISIS melalui internet juga menjadi kekhawatiran.

Rachid Kassim, warga Prancis berusia 29 tahun, direkrut ISIS di Suriah. Ia adalah terduga yang sudah diatur oleh para radikal yang menetap di Perancis dan berkomunikasi dengan mereka melalui Telegram aplikasi pesan terenkripsi. Ia dikaitkan dengan serangkaian plot teror musim panas ini, termasuk pembunuhan beberapa polisi, pembunuhan pendeta, dan upaya menyerang katedral Notre Dame. Tetapi kelihatan dia sudah tidak aktif lagi di internet dalam beberapa pekan terakhir, menurut sumber keamanan Prancis kepada CNN.


(WIL)