Tanpa Perjanjian INF, Trump Bertekad Kalahkan Misil Rusia

Willy Haryono    •    Rabu, 06 Feb 2019 12:51 WIB
amerika serikatrusia
Tanpa Perjanjian INF, Trump Bertekad Kalahkan Misil Rusia
Presiden AS Donald Trump dalam pidato kenegaraan di US Capitol, Washington, 5 Februari 2019. (Foto: AFP/Getty/Zach Gibson)

Washington: Amerika Serikat telah membekukan partisipasi dalam Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty (INF), sebuah perjanjian era Perang Dingin yang mengatur produksi misil balistik jarak menengah. Karena sudah tidak terikat perjanjian apapun, Presiden AS Donald Trump bertekad akan mengalahkan misil Rusia dalam hal produksi maupun teknologi.

Pernyataan Trump di pidato kenegaraan State of the Union itu disampaikan beberapa jam usai Rusia mengumumkan rencana mendesain sejumlah misil baru untuk dua tahun ke depan.

Penarikan mundur dari INF dilakukan AS karena Trump menilai Rusia telah melanggar perjanjian itu selama bertahun-tahun. Tidak mau kalah dari AS, Rusia juga telah menyatakan menarik diri dari INF.

"Di bawah kepemimpinan saya, kita tidak akan pernah meminta maaf untuk urusan kepentingan Amerika," ujar Trump di hadapan para anggota parlemen di US Capitol, Washington, seperti dikutip dari kantor berita AFP, Selasa 5 Februari 2019.

"Mungkin saja kita dapat menegosiasikan perjanjian lain, mungkin menambah Tiongkok atau negara lain. Atau mungkin juga kita tidak perlu melakukannya, dan kita akan mengalahkan semua pihak dalam hal jumlah dan inovasi," lanjut dia.

Meski pernyataan Trump ditujukan kepada Rusia, sejumlah pejabat AS mengkhawatirkan Tiongkok yang tidak terikat dengan INF. Saat ini, militer Tiongkok terus berkembang, dan teknologi misil jarak menengah merupakan bagian utama dari strategi pertahanan negara tersebut.

Perjanjian INF melarang semua misil dengan jarak tempuh 500 hingga 5.000 kilometer. Perjanjian itu ditandatangani pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev dan presiden AS Ronald Reagan di tahun 1987.

Sementara itu di Moskow, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengumumkan bahwa Presiden Vladimir Putin telah menyetujui rencana pembuatan misil model terbaru.

"Sepanjang 2019-2020, kami akan mengembangkan sistem Kalibr versi darat yang dilengkapi misil jelajah jarak jauh, yang sejauh ini telah menunjukkan hasil yang baik di Suriah," sebut dia.

"Dalam periode yang sama, kami juga akan menciptakan sebuah sistem peluncur dengan misil hipersonik jarak jauh," tambah Shoigu.


(WIL)