Cegah Imigran, Trump Kirim 5.200 Tentara ke Perbatasan

Arpan Rahman    •    Selasa, 30 Oct 2018 15:44 WIB
imigranmeksiko
Cegah Imigran, Trump Kirim 5.200 Tentara ke Perbatasan
Seorang pria mengintip di tembok perbatasan yang memisahkan Amerika Serikat (AS) dan Meksiki. (Foto: AFP).

Texas: Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengirim lebih dari 5.200 serdadu ke perbatasan AS-Meksiko. Ia memperingatkan rombongan imigran yang bergerak ke negeri Paman Sam.
 
"Ini adalah invasi," cuitnya, seperti dikutip dari Sky News, Selasa 30 Oktober 2018.
 
Militer AS mengatakan 800 tentara sedang menuju ke Texas pada Senin sore guna membantu mengamankan perbatasan sebelum pasukan yang tersisa bergabung nanti.
 
Para prajurit sedang dikerahkan oleh Pentagon sebagai bagian dari misi yang dijuluki Operasi Patriot Setia untuk mengawal perbatasan selatan, mendukung kontrol perbatasan. Sekitar 2.000 pasukan Garda Nasional telah dikirim ke sana.
 
Mereka terutama akan datang dari pangkalan militer utama dari seluruh negara, dua pejabat anonim AS mengatakan. Sebelumnya diperkirakan 800 pasukan militer akan dikirim ke perbatasan ketika kelompok 3.000 imigran pergi ke perbatasan, tetapi masih ratusan kilometer jauhnya di Meksiko selatan.
 
Pasukan tugas aktif jarang dikerahkan di AS kecuali untuk keadaan darurat domestik seperti angin topan dan banjir. Kafilah itu dimulai di Honduras pada 13 Oktober dengan sekitar 1.000 orang Honduras dan telah bertambah banyak orang ketika melintasi Guatemala ke Meksiko.
 
Para imigran asal Honduras, Guatemala, dan El Salvador mengaku lari dari penganiayaan, kemiskinan, dan kekerasan di negara asal mereka.
 
Mereka bertekad masuk ke AS, meski ada protes publik dari Trump. Presiden AS mencuit: "Ini adalah invasi negara kami dan militer kami sedang menunggu Anda!" Tanpa memberi bukti, ia mengklaim bahwa "banyak anggota geng dan beberapa penjahat bercampur ke dalam rombongan".

Berdasarkan hukum internasional, AS harus menerima klaim suaka dari imigran yang mengatakan mereka takut kekerasan di negara asal. Namun, Jaksa Agung AS Jeff Sessions mengumumkan pada Juni bahwa korban kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan geng tidak lagi memenuhi syarat untuk suaka.
 
Hanya mereka yang melarikan diri dari rasa ngeri akan penganiayaan yang serius dapat mengajukan suaka, katanya, meskipun orang-orang ini dianggap sebagai pengungsi di bawah hukum internasional.
(FJR)