Ilmuwan Komputer Miliki Bukti Kecurangan Pilpres AS

Arpan Rahman    •    Rabu, 23 Nov 2016 20:43 WIB
pemilu as
Ilmuwan Komputer Miliki Bukti Kecurangan Pilpres AS
Hillary Clinton saat menghadapi Trump dalam debat (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Michigan: Sekelompok ilmuwan komputer termasyhur dan para pengacara telah mendesak Hillary Clinton untuk menggugat hasil pemilu di tiga negara bagian kunci. Mereka telah mengumpulkan "bukti" bahwa hasil pemilu kemungkinan dimanipulasi.
 
Kalangan aktivis, termasuk pengacara hak suara John Bonifaz dan J Alex Halderman, direktur pusat lembaga keamanan komputer University of Michigan, meyakini bukti mereka menunjukkan bahwa hasil di tiga daerah pemilihan tersebut mungkin telah diretas.
 
Seperti dilansir The Independent dari New York Magazine, Rabu (23/11/2016), kelompok ini tidak berbicara secara terbuka, tetapi secara pribadi melobi tim Clinton buat menggugat hasil pemilu.
 
Di Wisconsin, Clinton memperoleh suara 7 persen lebih sedikit dalam sejumlah daerah yang tergantung pada mesin pemilu-elektronik (electronic-voting) dibandingkan dengan negara-negara bagian yang menggunakan pemindai-optik dan kertas surat suara. Akibatnya, Clinton mungkin telah kehilangan hingga 30.000 suara. Dia kalah di Wisconsin oleh 27.000 suara.
 
Kelompok ini sudah bertemu dengan Ketua kampanye Clinton, John Podesta dan penasihat umum kampanye Marc Elias untuk mengutarakan pendapat. Kendati mereka belum menemukan bukti konklusif tentang peretasan, ada sebuah pola dalam ciri-ciri hasil temuan mereka berdasarkan satu tinjauan tertentu.
 
Clinton telah mengisyaratkan tidak akan menggugat hasil pilpres dan Gedung Putih bertekad melancarkan transisi. Batas waktu mengajukan penghitungan suara ulang antara Jumat dan Rabu pekan depan untuk tiga negara tersebut.
 
Pemungutan suara di Michigan masih belum disebut sebagai hasil akhir penutup pilpres 8 November -- dan 16 suara elektoral di negara bagian itu belum proporsional baik bagi Trump atau Clinton.

(Baca: Trump Takkan Desak Penyelidikan Skandal Email Hillary Clinton).
 
Trump merebut 290 suara suara elektoral (electoral college) secara keseluruhan, dibandingkan Clinton dengan 232 suara. Kursi Michigan kemungkinan akan diberikan kepada pihak Republik. Clinton perlu menang di Michigan dan membatalkan hasil di Wisconsin dan Pennsylvania untuk memenangkan suara elektoral.
 
Faktor lain adalah apa yang disebut "pemilih setia" yang tidak akan memilih calon yang menang dalam pemilu di negara bagian mereka. Sejauh ini, enam pemilih suara elektoral sudah mengatakan mereka tidak memilih Trump.
 
Sementara itu, lebih dari 4,5 juta orang telah menandatangani petisi untuk melimpahkan lebih banyak suara elektoral demi menentang aturan di negara bagian mereka. Hanya ada 157 pemilih setia sepanjang sejarah, dan mereka tidak pernah berkhianat saat pemilihan.
 
Trump berkata, pada Selasa 22 November, dalam pertemuan dengan jajaran redaksi New York Times bahwa dirinya "tak pernah punya seorang penggemar" dari suara elektoral. Ia mengaku lebih suka menang dalam pemilu.
 
Heba Abedin, adik ajudan Clinton, Huma Abedin, menyerukan lewat Facebook agar masyarakat menelepon Kementerian Kehakiman dan minta audit pemilu.
 
"Mereka mulai menyadari benar-benar ada sesuatu dari hasil pemilu ini seperti yang mereka kira," tulisnya.
 
Clinton sudah bilang selama debat pilpres ketiga bahwa penolakan Trump untuk menerima hasil pemilu jika ia kalah sungguh "mengerikan".

(FJR)