Angkatan Laut AS Tembak Lokasi Radar Pemberontak di Yaman

Arpan Rahman    •    Kamis, 13 Oct 2016 14:08 WIB
konflik yaman
Angkatan Laut AS Tembak Lokasi Radar Pemberontak di Yaman
Kapal perang AS saat formasi di laut Yaman (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Washington: Amerika Serikat (AS) menyatakan, pihak Angkatan Laut telah menghancurkan tiga lokasi radar di Yaman setelah dua rudal ditembakkan ke sebuah kapal perusak AS di lepas pantai Yaman.
 
"Sore tadi (pukul 21:00 waktu bagian timur atau jam 4.00 pagi waktu setempat di Yaman), kapal perusak USS Nitze meluncurkan rudal jelajah Tomahawk menargetkan tiga lokasi radar di pesisir Yaman sepanjang pantai Laut Merah, sebelah utara Selat Bab-el-Mandeb. Hasil penilaian awal menunjukkan bahwa ketiga target telah hancur," pernyataan pihak militer AS, seperti dikutip NPR, Kamis (13/10/2016).
 
"Menghancurkan lokasi radar ini akan menurunkan kemampuan mereka untuk melacak dan menargetkan kapal-kapal di masa mendatang. Radar ini aktif selama serangan sebelumnya dan percobaan serangan atas kapal-kapal di Laut Merah, termasuk serangan pekan lalu ke kapal berbendera Amerika 'Swift-2', dan selama percobaan serangan ke kapal USS Mason dan kapal lainnya, baru-baru ini," lanjut pernyataan tersebut.
 
"Ketiga situs radar berada di daerah terpencil, di mana ada sedikit risiko korban sipil atau kerusakan tambahan. Semua lokasi berada di wilayah yang dikuasai Houthi," imbuh pihak Angkatan Laut AS.
 
Menurut NPR, Pentagon mengatakan bahwa rudal yang telah ditembakkan ke kapal Angkatan Laut AS USS Mason di lepas pantai Yaman, untuk kedua kalinya dalam empat hari 
 
"Setidaknya satu rudal berasal dari wilayah yang dikuasai Houthi dekat kota pelabuhan Laut Merah, al-Hudaydah," kata sekretaris pers Pentagon Peter Cook dalam sebuah pernyataan kepada wartawan NPR, Tom Bowman.
 
"Kapal menggunakan penanganan defensif, sehingga rudal tidak mencapai USS Mason. Tidak ada kerusakan pada kapal atau awaknya," sebut Cook, tanpa merinci inti dari penanganan defensif.
 
Selama akhir pekan, USS Mason jadi target dua rudal anti-kapal yang diluncurkan dari pantai Yaman. Kejadian berlangsung ketika kapal itu berlayar melalui selat sempit antara Djibouti dan Yaman yang disebut Bab al-Mandeb. Daerah sangat strategis itu pintu masuk ke Laut Merah, yang kemudian terhubung ke Terusan Suez -- jalur perairan penting untuk perdagangan global.


Kapal perang USS Mason jadi target serangan di Yaman (Foto: AFP)
 
 
Pemberontak Syiah Houthi di Yaman, telah menguasai ibu kota Sanaa, sejak akhir 2014. Sebuah koalisi yang dipimpin Saudi dan didukung AS membantu Abed Rabbo Mansour Hadi, -pemimpin Yaman yang diakui secara internasional,- dalam pengasingan. Koalisi telah meluncurkan serangan udara sejak Maret 2015, bertujuan menyingkirkan para pemberontak kembali ke kubu mereka di utara.
 
Rudal-rudal yang ditembakkan pada Minggu 9 Oktober, "adalah varian yang disebut rudal Ulat Sutera, jenis rudal jelajah pertahanan pesisir, Iran diketahui menggunakannya," seperti dilaporkan Associated Press.
 
Perang telah menyebabkan banyak korban, menghancurkan seluruh negeri. PBB memperkirakan, setidaknya 10.000 orang telah tewas selama konflik -- dan seperti yang dilaporkan wartawan NPR, Jackie Northam, hampir setengah dari mereka adalah warga sipil.
 
Tidak jelas bagaimana AS berencana untuk merespons. "Mereka yang mengancam pasukan kami harus tahu bahwa komandan AS mempertahankan hak untuk membela kapal mereka, dan kami akan menanggapi ancaman ini pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat," tegas Cook.
 
Seperti dilaporkan Bowman, "Pentagon menolak mengatakan apakah akan menelusuri serangan dan merencanakan serangan balasan, tapi menyatakan pada hari Selasa bahwa para penyerang dari kapal perang AS telah menindak bahaya yang mengancam mereka."
 
Tindakan itu dilakukan saat AS sedang mengkaji keterlibatannya dalam konflik, menyusul serangan udara yang mematikan di pemakaman selama akhir pekan yang menewaskan sedikitnya 140 orang, seperti dilaporkan Jackie Northam. 
 
"Arab Saudi awalnya membantah terlibat dalam serangan Sabtu 8 Oktober itu, yang disebut amat disesalkan dan menyakitkan. Kerajaan Saudi kemudian mengatakan akan memulai penyelidikan, tetapi tidak mengakui tanggung jawab," sebut Northam.
 
Senator Demokrat Chris Murphy dari Connecticut menjelaskan peran AS dalam konflik kepada Jackie dari NPR: "Amerika Serikat memberikan bom. Kami menyediakan pesawat pengisi bahan bakar di udara. Kami menyediakan intel," pungkas Murphy.
 
"Saya pikir aman untuk mengatakan bahwa kampanye pengeboman di Yaman tidak bisa terjadi tanpa Amerika Serikat," pungkasnya.

(FJR)

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

1 day Ago

Perdana Menteri Italia Metteo Renzi mundur dari jabatannya setelah gagal menang dalam referendum…

BERITA LAINNYA