57 Imigran Terdampar di Gurun Arizona Diselamatkan Patroli AS

Arpan Rahman    •    Selasa, 26 Jun 2018 21:08 WIB
imigran gelap
57 Imigran Terdampar di Gurun Arizona Diselamatkan Patroli AS
Imigran gelap masih terus berupaya melintasi perbatasan Amerika Serikat dari Meksiko (Foto: AFP).

Arizona: Patroli Perbatasan Amerika Serikat (AS) menyelamatkan 57 imigran gelap yang terdampar di gurun Arizona.
 
Kelompok imigran terdiri dari 21 orang dewasa dan 36 anak di bawah umur, termasuk bayi 1 tahun dan 17 anak di bawah umur yang tanpa pendamping. Mereka berasal dari setidaknya empat negara: Nikaragua, El Salvador, Guatemala, dan Honduras.
 
Pada Jumat sore pekan lalu, kelompok itu terdampar di dekat Lukeville, Arizona. Lokasi itu terletak di perbatasan AS-Meksiko.
 
Seseorang dalam kelompok yang memanggil 911 minta bantuan untuk menyatakan bahwa mereka butuh pertolongan. Daerah ini sedang mengalami gelombang panas dan suhu pada saat itu sekitar 108 derajat.
 
"Meskipun beberapa tampaknya mengalami dehidrasi, agen yang terlatih secara medis segera menilai semua imigran mengalami masalah kesehatan, dan menemukan hanya satu orang yang membutuhkan perawatan medis lebih lanjut," kata Patroli Perbatasan dalam sebuah pernyataan.
 
"Seorang wanita hamil di bawah umur, diberikan cairan infus oleh Paten Perbatasan EMT untuk dehidrasi, dan sedang diangkut ke rumah sakit daerah setempat untuk perawatan lebih lanjut," tambahnya, seperti dikutip UPI, Selasa 26 Juni 2018.
 
"Karena panas yang ekstrem, para pejabat Patroli Perbatasan Sektor Tucson memperingatkan bahwa musim panas adalah waktu yang sangat berbahaya untuk terdampar di gurun Arizona," tambah agensi itu.
"Gurun Arizona adalah lingkungan tanpa ampun bagi mereka yang tidak siap karena daerahnya yang terpencil, medan yang keras, dan cuaca yang tidak dapat diprediksi," imbuh pernyataannya.
 
Para imigran ditahan dan dibawa ke pusat imigrasi untuk diproses.
 
Menurut data Patroli Perbatasan dari tahun lalu, setidaknya 7.209 orang telah meninggal saat melintasi perbatasan AS-Meksiko selama 20 tahun terakhir. Namun jumlah itu kemungkinan jauh lebih rendah daripada jumlah sebenarnya karena hanya menghitung mayat korban yang ditemukan oleh Patroli Perbatasan, bukan lembaga penegak hukum setempat.


(FJR)