Pemilu Brasil Diwarnai Lonjakan Kasus Korupsi

Arpan Rahman    •    Kamis, 06 Sep 2018 10:52 WIB
politik brasil
Pemilu Brasil Diwarnai Lonjakan Kasus Korupsi
Fernando Haddad, calon Presiden Brasil yang dituduh korupsi (Foto: AFP).

Rio de Janeiro: Prospek pemilu Partai Buruh Brasil (PT) yang semula kuat mengalami pukulan berlanjut pada Selasa. Jaksa menuduh calon presidennya, Fernando Haddad, mantan Wali Kota Sao Paulo, atas korupsi.
 
Haddad diperkirakan segera menggantikan mantan presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva sebagai kandidat PT dalam pemilihan presiden, Oktober. Seorang hakim pekan lalu melarang Lula da Silva, yang dipenjara karena korupsi awal tahun ini, untuk mencalonkan diri.
 
"Ini tidak akan mengalahkan pencalonan (Haddad), tetapi akan memberikan lebih banyak amunisi kampanye kepada musuh-musuhnya," kata Thiago de Aragao, direktur Arko Advice, konsultan politik, seperti dikutip dari Financial Times, Kamis 6 September 2018.
 
Tuduhan atas Haddad, yang dia tepis, diperkirakan memicu kemarahan dan ketidakpastian lebih lanjut dalam salah satu pemilihan presiden yang paling tidak terduga dan terpecah-belah di negara itu selama bertahun-tahun.
 
Sementara Lula da Silva tetap populer dengan banyak pemilih miskin untuk program tunjangan sosial yang ia terapkan selama delapan tahun di akhir kekuasaan pada 2010. Ia memimpin jajak pendapat awal, disusul oleh musuh bebuyutannya, mantan kapten tentara Jair Bolsonaro.
 
Analis mengharapkan Lula da Silva akan dapat mentransfer sebagian dari suaranya kepada Haddad.
 
Dalam dakwaannya, jaksa di Sao Paulo menuduh PT menerima atas nama Haddad pembayaran sebesar 2,6 juta Real Brasil atau setara Rp9,4 miliar untuk menutupi utang yang masih harus dibayar ketika dia berkampanye dalam pemilihan Wali Kota Sao Paulo pada 2012.
 
Uang itu diduga berasal dari perusahaan konstruksi, UTC Engenharia, dan dicuci oleh penjual uang pasar gelap, Alberto Yousseff. Kesaksian Yousseff menjadi dasar penyelidikan korupsi yang ditengarai selama empat tahun terakhir -- dikenal sebagai Lava Jato, atau Operasi Cuci Mobil.
 
"Ada skema pembayaran dan transfer uang untuk menyamarkan asal dari uang tunai," menurut kejaksaan.
 
Kantor Haddad mengatakan tuduhan itu "mengejutkan dalam periode pemilihan" dan "tanpa bukti".
 
Paulo Teixeira, anggota parlemen senior dari PT, mengklaim tuduhan itu bermotif politik dan dimaksudkan untuk membantu kampanye dari Bolsonaro.


(FJR)


Trump Diminta Gelar Investigasi Kedua Soal Khashoggi
Kematian Jamal Khashoggi

Trump Diminta Gelar Investigasi Kedua Soal Khashoggi

1 hour Ago

Senat meminta Trump untuk memastikan apakah Pangeran Mohammed terlibat atau tidak dalam kasus…

BERITA LAINNYA