Trump Marah-Marah ke Partai Republik

Willy Haryono    •    Rabu, 12 Oct 2016 10:11 WIB
pemilu as
Trump Marah-Marah ke Partai Republik
Donald Trump dalam kampanye di Pier Park, Florida, 11 Oktober 2016. (Foto: AFP/MARK WALLHEISER)

Metrotvnews.com, New York: Calon presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump marah-marah ke Partai Republik setelah sejumlah politikus, termasuk Ketua DPR Paul Ryan, mencabut dukungan terhadap dirinya. 

Mendeklarasikan dirinya telah terbebas dari jeratan partai, Trump mencaci maki para petinggi Republik yang menjauh dari dirinya. 

Trump menyebut Ryan "pemimpin lemah dan tidak efektif, dan juga menghina nominasi Gedung Putih pada 2008, John McCain, sebagai pria "bermulut kotor."

"Menyenangkan rasanya bisa terlepas dari belenggu ini, dan sekarang saya bisa berjuang demi Amerika dengan cara saya sendiri," ujar Trump di akun Twitter, seperti dikutip AFP, Selasa (11/10/2016). 

Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, ia memfokuskan serangannya terhadap Ryan dengan berkata: "Saya tidak mau dukungannya. Saya tidak peduli dengan dukungannya."

Belum lama ini, Ryan menegaskan tidak akan membela Trump. Ia meminta semua politikus Republik untuk fokus bekerja dan mempertahankan posisi mayoritas di DPR AS. 

"Saya tidak mau berada di dalam lubang bersama orang-orang itu, termasuk Ryan, terutama Ryan," tegas dia.

Hubungan antara Trump dan pemimpin Republik telah renggang sejak awal kampanye. Banyak petinggi partai, termasyuk Ryan, menganggap Trump tidak pantas disandingkan dengan Abraham Lincoln dan Ronald Reagan, dua mantan presiden dari Republik.

Titik terendah hubungan mereka terjadi setelah munculnya video yang dirilis The Washington Post. Dalam video itu, Trump mengatakan dapat bebas memegang bagian tubuh wanita karena dirinya adalah seorang bintang. 

Presiden AS Barack Obama merespons video terbaru Trump dan menyebut retorika cabul itu "sangat mengganggu." Menurutnya, banyak orang bahkan menilai ucapan Trump sebagai sebuah "pelecehan seksual."

"Anda tidak perlu menjadi suami atau ayah untuk mengatakan bahwa ucapan itu tidak benar. Anda hanya perlu menjadi seorang manusia biasa," ungkap Obama dalam acara dukungan terhadap Hillary Clinton di North Carolina. 

Tidak lama setelah video kontroversial keluar, Trump meminta maaf ke publik AS. Ia menegaskan serangkaian ucapan itu hanya sebuah percakapan yang biasa dilakukan pria di "ruang loker" dan tidak mendeskripsikan jati dirinya. 

Namun Clinton menilai ucapan kotor itu justru dapat menggambarkan secara jelas siapa Trump itu sebenarnya.




(WIL)