Jaksa Agung AS akan Jawab Tanya Soal Rusia Secara Tertulis

Arpan Rahman    •    Minggu, 05 Mar 2017 06:56 WIB
pemerintahan as
Jaksa Agung AS akan Jawab Tanya Soal Rusia Secara Tertulis
Jaksa Agung AS Jeff Sessions diduga bertemu dengan Dubes Rusia secara sembunyi (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Washington: Jaksa Agung Amerika Serikat (AS), Jeff Sessions, akan menjawab secara tertulis pertanyaan dari para anggota Senat asal Partai Demokrat tentang pertemuannya dengan duta besar Rusia, tahun lalu. 
 
Kementerian Kehakiman AS mengatakan hal itu, Jumat 3 Maret, setelah pucuk pimpinan Partai Republik menolak permintaan para Demokrat buat menggelar rapat dengar pendapat (RDP) terbuka.
 
Sembilan senator Demokrat telah menulis permintaan kepada ketua komite peradilan Senat, Chuck Grassley, agar menghadirkan Sessions di hadapan panel demi menjelaskan ketidaksediaannya hingga pekan ini untuk mengungkapkan kontak dengan dubes Rusia selama kampanye presiden 2016.
 
Surat itu datang sehari setelah Sessions menyingkirkan dirinya sendiri dari penyelidikan atas dugaan campur tangan Rusia dalam pemilu. Grassley menjawab bahwa ia tidak punya rencana untuk sebuah RDP.
 
Sebaliknya, Sessions akan mengirimkan jawaban tertulis, pada Senin 6 Maret, demi menjawab pertanyaan dalam surat itu. Seperti, mengapa dia tidak mengungkap lebih cepat soal detail komunikasi dengan Sergey Kislyak, dubes Rusia, kata juru bicara Kementerian Kehakiman AS, Peter Carr.
 
Pada Kamis 2 Maret, Sessions berkata, dia bertemu Kislyak di kantor Senat dua bulan sebelum pemilu, serta di sebuah acara dengan sejumlah dubes lainnya di konvensi nasional Partai Republik.
 
Selama proses konfirmasi Senat untuk menjadi Jaksa Agung, Sessions membantah kontak dengan pejabat Rusia selama kampanye. Sessions berkata kepada wartawan, ia tidak berbuat kesalahan dengan tidak mengungkapkan kontak dengan Kislyak.
 
Para Demokrat mendorong penyelidikan meluas hubungan antara asosiasi kampanye Trump dan operasi Rusia serta telah menyerukan Sessions mengundurkan diri. Trump kukuh mendukung Jaksa Agung dan menuduh kalangan senator Demokrat meniupkan isu keluar dari proporsi demi tujuan politik.
 
Dua pejabat AS, yang berbicara secara anonim, Kamis, mengatakan Sessions menjadi satu dari banyak subyek mengenai penyelidikan pemerintah menyangkut setiap kontak antara tim kampanye Trump dan Rusia.
 
Jalinan kontak itu dilaporkan menimbulkan berbagai pertanyaan tentang pernyataan Gedung Putih yang mengetahui tidak ada komunikasi lebih lanjut dengan para pejabat Rusia di luar yang dibuat oleh mantan penasehat keamanan nasional, Michael Flynn, yang dipecat bulan lalu.
 
Kontroversi Rusia sudah memantapkan hari-hari pertama pemerintahan Trump dan terancam untuk dikaburkan oleh dorongan buat memotong pajak, mencabut UU kesehatan Obamacare, dan urusan pelbagai prioritas domestik lainnya.
 
Senator-senator Demokrat, termasuk Dianne Feinstein dan Richard Blumenthal, mengatakan dalam surat mereka bahwa keputusan Sessions mundur dari penyelidikan terkait kampanye itu bisa diterima. Tetapi mereka katakan, jawaban sebelumnya untuk pertanyaan tentang Rusia "tidak lengkap dan menyesatkan".
 
"Mengingat seriusnya masalah ini, kami tidak percaya bahwa jawaban tertulis cukup memadai guna memperbaiki catatan sebelumnya," sebut mereka dalam suratnya.
 
"Mengingat seriusnya masalah ini, kami tidak percaya bahwa jawaban tertulis cukup memadai guna memperbaiki catatan sebelumnya," sebut mereka dalam surat, seperti dimuat Guardian, Sabtu 4 Maret 2017.
 
Badan-badan intelijen Amerika menyimpulkan tahun lalu bahwa Rusia meretas dan membocorkan email Partai Demokrat selama kampanye pemilu sebagai bagian dari upaya supaya mencurahkan suara yang mendukung Trump. Kremlin telah membantah tuduhan tersebut.
 
Selama kampanyenya, presiden Trump sering menyerukan perbaikan hubungan dengan Rusia, yang sudah sangat tegang dalam beberapa tahun terakhir. Pemicunya lantaran campur tangan militer Moskow di Ukraina, dukungan buat Presiden Bashar al-Assad di Suriah, dan intoleransi Putin terhadap perbedaan pendapat politik.



(FJR)