AS Batalkan Deportasi 1.500 Warga Irak

Fajar Nugraha    •    Rabu, 12 Jul 2017 16:38 WIB
pemerintahan as
AS Batalkan Deportasi 1.500 Warga Irak
Keluarga warga Irak yang akan dideportasi menunggu di luar ruang pengadilan (Foto: Reuters).

Metrotvnews.com, Detroit: Hakim di wilayah Detroit, Amerika Serikat (AS) telah membatalkan  rencana mendeportasi sekitar 1.500 warga asal Irak yang bermukim di wilayah mereka.
 
Hakim Mark Goldsmith pada Selasa , 11 Juli 2017 mengatakan bahwa rakyat Irak akan menghadapi  "risiko kematian, penyiksaan, atau penganiayaan berat lainnya" jika dikirim kembali ke Irak.  Sebelumnya permintaan suaka mereka hendak diperiksa oleh otoritas Negeri Paman Sam.
 
Kasus ini awalnya melibatkan 100 umat Katolik Kasdim di sekitar daerah Detroit, Michigan karena mereka  memiliki beberapa catatan kriminal. Kasus ini kemudian meluas meliputi warga Kristen, Kurdi dan pengungsi Irak lain yang terlibat dalam kejahatan serius.
 
Lembaga The American Civil Liberties Union, yang mendukung penundaan deportasi menyambut baik keputusan tersebut dan mengatakan bahwa tindakan tersebut mencegah kemungkinan orang Irak dapat dideportasi sebelum klaim suaka mereka diperiksa. Goldsmith menyatakan penundaan deportasi berlangsung sampai 24 Juli. 
 
Nora Youkhana dari Lembaga Bantuan Hukum CODE di Detroit, mengatakan pada VOA News, Rabu 12 Juli 2017, batas waktu  putusan Goldsmith sampai melebihi 24 Juli. 
 
Upaya deportasi tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan larangan Presiden Donald Trump, yang melarang masuk warga dari enam negara mayoritas Muslim, kecuali Irak. Namun Kementerian Kehakiman Amerika Serikat menyatakan bahwa pengadilan distrik federal tidak berwenang untuk menunda perintah deportasi rakyat Irak dalam kasus ini.
 
Sekitar 1.500 rakyat Irak sedianya akan di deportasi setelah pemerintah negara tesebut menyetujui menerima keputusan deportasi dari pihak Washington, pada Maret lalu. Hal itu merupakan bagian dari kesepakatan yang mendorong Pemerintah Trump untuk merevisi larangan bepergian tersebut bagi terutama bagi warga Irak. 
 
Beberapa orang Irak yang disebutkan dalam kasus ini awalnya adalah anak-anak yang beberapa dekade lalu mendatangi Amerika kemudian melakukan kejahatan. Namun upaya  untuk mendeportasi mereka sebelumnya gagal karena Pemerintah Irak menolak untuk menerbitkan dokumen perjalanan mereka. (Ratu Tiara Sari).



(FJR)