Korban Ledakan di Pusat Perbelanjaan Bogota Bertambah

Arpan Rahman    •    Minggu, 18 Jun 2017 11:56 WIB
ledakan bom
Korban Ledakan di Pusat Perbelanjaan Bogota Bertambah
Kepolisian Kolombia datang ke lokasi ledakan di pusat perbelanjaan Andino di Bogota, 17 Juni 2017. (Foto: AFP/Raul Arboleda)

Metrotvnews.com, Bogota: Sedikitnya tiga wanita tewas dan sembilan terluka setelah bom meledak dalam toilet di sebuah pusat perbelanjaan kelas atas di Bogota, Kolombia, Sabtu 17 Juni 2017.

Pengunjung pusat perbelanjaan Andino di kawasan eksklusif Bogota dievakuasi setelah ledakan, yang terjadi sekitar pukul 5 sore waktu setempat. Mal dipenuhi orang-orang yang membeli hadiah menjelang perayaan Hari Ayah pada Minggu 18 Juni 2017.

Polisi mengatakan bahan peledak diletakkan pelaku di toilet lantai dua. Wali kota Bogota Enrique Penalosa mengutuk serangan tersebut.

"Serangan teroris pengecut di Andino ini benar-benar menyakitkan saya," katanya di Twitter, seperti laporan APA mengutip Reuters, Minggu 18 Juni 2017.

Salah seorang korban adalah wanita Prancis berusia 23 tahun, yang telah menjadi relawan di daerah miskin di kota tersebut, Penalosa.

Jalanan di sekitar pusat perbelanjaan ditutup dan sejumlah bangunan yang dievakuasi oleh polisi saat ambulans datang ke tempat kejadian. Petugas keamanan mencoba untuk memastikan siapa yang bertanggung jawab atas ledakan. Spesialis skuad bom menyisir area tersebut dalam pencarian perangkat lain.

Foto-foto di media sosial menunjukkan seorang wanita terkulai ke dinding, genangan darah di sekitarnya, dan apa yang terlihat seperti pecahan logam menusuk bagian punggung. Di depannya, seorang wanita lain mengalami luka di bagian kaki.

Gambar lain menunjukkan bilik toilet yang hancur dengan pegangan pintu berlumuran darah dan puing-puing tembok tersebar di lantai.

Presiden Juan Manuel Santos sudah memerintahkan penyelidikan atas insiden ini.

FARC dan ELN

Keamanan telah membaik di Bogota selama dekade terakhir karena polisi dan militer meningkatkan pengawasan dan menempatkan lebih banyak petugas bersenjata di jalanan. Di suatu ketika, semua tas diperiksa di pintu masuk ke mal, tapi pemeriksaan sangat longgar dalam beberapa tahun ini.

Anjing pelacak masih memeriksa mobil-mobil di fasilitas parkir di ibu kota.

Sebuah kesepakatan damai yang ditandatangani tahun lalu dengan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC), kelompok gerilya terbesar di negara itu, meningkatkan kepercayaan bahwa serangan bom mungkin akan berhenti.

Kelompok pemberontak terbesar kedua di negara itu, Tentara Pembebasan Nasional, atau ELN, pada Februari lalu meledakkan sebuah bahan peledak di Bogota yang melukai puluhan polisi.

ELN, pemberontakan Marxis yang kini sedang menegosiasikan perdamaian dengan pemerintah, membantah terlibat dalam insiden ini dan turut mengecam serangan atas warga sipil.

Otoritas Kolombia sebelumnya sempat mengingatkan potensi serangan di Bogota dari Gulf Clan, sekelompok mantan pejuang paramiliter sayap kanan yang berbisnis narkoba.


(WIL)