Trump Puji Keputusan MA Dukung Larangan Kunjungan Kontroversialnya

Eko Nordiansyah    •    Rabu, 27 Jun 2018 07:46 WIB
amerika serikatdonald trump
Trump Puji Keputusan MA Dukung Larangan Kunjungan Kontroversialnya
Donald Trump terpilih menjadi Presiden AS. (FOTO: AFP).

Washington: Presiden Donald Trump memuji keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) untuk menegakkan larangannya atas para pelancong dari lima negara mayoritas Muslim sebagai kemenangan luar biasa bagi rakyat Amerika, atas oposisinya.

"Mahkamah Agung telah menjunjung otoritas yang jelas dari Presiden untuk membela keamanan nasional Amerika Serikat," kata Trump seperti dilansir dari AFP, Rabu, 27 Juni 2018.

Menurut Trump, keputusan tersebut secara tidak langsung telah membenarkan ucapannya mengenai larangan tersebut. Trump berharap dari keputusan ini bisa diterima oleh seluruh pihak.

"Putusan ini menjadi pembenaran momen mendalam setelah berbulan-bulan komentar histeris dari media dan politisi Demokrat yang menolak untuk melakukan apa yang diperlukan untuk mengamankan perbatasan dan negara kita," ungkap Trump.

Sebelumnya MA AS memutuskan dukung larangan kontroversial Trump. Alasan yang diklaim oleh pemerintah dibenarkan oleh masalah keamanan nasional, adalah sah menurut Hakim Ketua John Roberts.

Keputusan ini membuat Trump bisa melarang warga dari Korea Utara dengan lima negara mayoritas Muslim yaitu Iran, Libya, Somalia, Suriah dan Yaman untuk masuk AS. Pejabat-pejabat tertentu dari Venezuela juga menjadi sasaran langkah itu.

Roberts menyatakan peraturan tersebut valid dan dibenarkan jika mengacu kepada kekhawatiran keamanan nasional. Kebijakan Trump itu tidak membuat dia bisa mendapatkan wewenang berlebih sehingga melanggar konstitusi AS. 

"Pemerintah telah menetapkan justifikasi keamanan nasional yang cukup untuk bertahan dari peninjauan rasional," kata dia. 


(DEN)


Wanita Terduga Agen Rusia Ditangkap di AS

Wanita Terduga Agen Rusia Ditangkap di AS

8 hours Ago

Amerika Serikat kembali diguncang skandal mata-mata. Kejaksaan wilayah Washington DC menahan seorang…

BERITA LAINNYA