Sanksi AS Picu Kekhawatiran Stok BBM di Venezuela

Willy Haryono    •    Rabu, 30 Jan 2019 11:31 WIB
amerika serikatkonflik venezuelavenezuela
Sanksi AS Picu Kekhawatiran Stok BBM di Venezuela
Seorang pria memompa BBM ke sebuah mobil di salah satu SPBU di Caracas, Venezuela, 29 Januari 2019. (Foto: AFP/LUIS ROBAYO)

Caracas: Sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap perusahaan minyak nasional Venezuela membuat masyarakat di Caracas dan sejumlah kota lainnya khawatir terhadap pasokan dan ketersediaan bahan bakar minyak.

Penjatuhan sanksi ke perusahaan PDVSA merupakan bagian dari upaya AS dalam menekan rezim Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Washington menilai Maduro bukan lagi pemimpin sah yang diinginkan warga Venezuela.

Rabu kemarin, tokoh oposisi Venezuela Juan Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden interim. AS mengakui deklarasi Guaido tersebut.

Keuntungan dari penjualan minyak Venezuela dipastikan terganggu akibat adanya sanksi. Padahal, lebih dari 40 persen minyak mentah Venezuela dijual ke AS.

"Rasanya sangat aneh. Kami terbiasa membeli BBM dengan harga yang sangat murah, dan pasokannya juga banyak," ujar Irene Mendez, seorang warga Venezuela, seperti dilansir dari laman AFP, Rabu 30 Januari 2019. Dia memprediksi BBM akan sulit didapat di Venezuela dalam beberapa pekan ke depan.

Irene, yang menyatakan dukungannya untuk Guaido, mengaku siap bertahan di tengah kondisi saat ini demi tercapainya perubahan politik di Venezuela.

Baca: AS Ingatkan Konsekuensi Serius Jika Guaido Disakiti

Sementara Gonzalo Lovera, seorang sopir truk berusia 68 tahun, menganggap sanksi AS terhadap PDVSA adalah langkah yang "tidak logis." Ia menginginkan pemerintahan Maduro berdialog dengan oposisi agar krisis politik dan ekonomi saat ini terselesaikan.

Lovera menyayangkan keputusan Guaido yang mendeklarasikan diri sebagai pengganti Maduro. "Dalam perseteruan politik, pihak yang dirugikan adalah kami, rakyat," sebut dia.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari 40 orang tewas dan 850 lainnya ditahan dalam gelombang aksi protes menentang Maduro sepanjang pekan kemarin.


(WIL)