Presiden Baru Brasil Sebut Negaranya Bebas dari Sosialisme

Arpan Rahman    •    Rabu, 02 Jan 2019 13:03 WIB
presiden brasilpolitik brasil
Presiden Baru Brasil Sebut Negaranya Bebas dari Sosialisme
Jair Bolsonaro baru dilantik sebagai Presiden baru Brasil. (Foto: AFP).

Brasilia: Jair Bolsonaro mengumumkan “bebasnya Brasil dari sosialisme dan nilai-nilai yang berubah”. Ini disampaikannya usai dilantik sebagai Presiden ke-42 Brasil.

Seruannya disambut kerumunan lebih dari 100.000 warga. Banyak yang yakin tokoh populis sayap kanan itu dapat menyelamatkan negara mereka yang bermasalah dari korupsi akut, meningkatnya kejahatan dengan kekerasan, dan kelesuan ekonomi.

Bolsonaro, mantan kapten tentara, dan wakil presidennya, pensiunan jenderal militer Hamilton Mourao, dilantik di Kongres.

Dalam pidato singkat di depan majelis para wakil rakyat, Bolsonaro bersyukur karena telah selamat dari serangan pisau yang nyaris fatal selama kampanye pemilu. Ia mengundang anggota parlemen agar membantu Brasil membebaskan diri dari "korupsi, kriminalitas, dan ekonomi tidak bertanggung jawab dan penaklukan ideologis".

"Kita memiliki peluang merekonstruksi negara dan menyelamatkan harapan rakyat kita," katanya, seperti dilansir dari Guardian, Selasa 1 Januari 2019.

Dia juga merujuk janji-janji kampanye seperti membebaskan kepemilikan senjata. "Warga negara yang baik layak atas sarana untuk membela diri," ucapnya.

Bolsonaro mengandalkan dukungan Kongres untuk memberikan ‘dukungan hukum’ bagi polisi untuk melakukan pekerjaan; dia janjikan impunitas bagi polisi yang membunuh penjahat. "Mereka layak mendapatkannya dan harus dihormati," tegasnya.

Politikus berusia 63 tahun itu menikmati dukungan dari sektor agribisnis Brasil yang kuat, yang katanya akan memiliki peningkatan efisiensi dengan lebih sedikit birokrasi. Ucapannya membuat para aktivis lingkungan dan aktivis masyarakat adat prihatin dengan rencananya mengurangi perampingan izin lingkungan dan memungkinkan penambangan komersial dan bertani di cagar alam yang dilindungi.

Dia juga menyoroti partai sayap kiri, Partai Buruh yang dia lukiskan sebagai komunis yang bertanggung jawab atas semua penyakit Brasil, dari kejahatan hingga korupsi. "Secara tidak bertanggung jawab membawa kita pada krisis etika, moral, dan ekonomi terburuk dalam sejarah kita," serunya.

Beberapa menit kemudian, Donald Trump mencuit bahwa Bolsonaro telah memberi "pidato pelantikan yang hebat", seraya menambahkan: "Amerika Serikat bersama Anda!"

Sebagai mantan kapten militer, Bolsonaro memangku tujuh kali masa jabatan yang tidak istimewa sebagai anggota majelis rendah Brasil, dianggap sebagai tokoh marjinal yang dikenal karena kecamannya terhadap kaum kiri dan LGBT. Dia menggiring gelombang kemarahan atas kekuasaan, dipicu skandal korupsi dan resesi ekonomi, yang dituduhkan Bolsonaro pada partai Buruh sayap kiri yang memerintah Brasil selama 13 tahun.

Lewat kampanye agresif dan sangat terpolarisasi yang memanfaatkan media sosial dengan piawai, Bolsonaro memusatkan serangan pada mantan presiden kiri Luiz Inacio Lula da Silva. Lula, saat ini menjalani hukuman penjara karena korupsi, dan penggantinya Dilma Rousseff, dimakzulkan pada 2016 karena melanggar aturan anggaran.

Kemenangan pemilu Bolsonaro menandai haluan dramatis ke kanan bagi Brasil, yang 1964-1985 diperintah kediktatoran militer. Presiden baru ini telah menyatakan dukungan untuk itu.

Pelantikan berlangsung di bawah pengamanan paling ketat yang tampak dalam beberapa dekade. Kerumunan pendukung melewati tiga pos pemeriksaan, termasuk detektor logam. Pemerintah baru mengatakan 115.000 orang hadir, jauh lebih sedikit dari yang diperkirakan setengah juta. Ketika suporter bernyanyi, petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air untuk mengurangi panas yang lembab.

"Dia adalah orang yang akan membangunkan negara ini," kata Francisco Siqueira, 64, pensiunan letnan tentara yang mengorganisir parade pengendara sepeda motor pro-Bolsonaro. "Orang Brasil akan bangga ketika mereka bepergian ke luar negeri," cetusnya.

Tetapi demi memenuhi janji-janji kampanye radikal dan mengembalikan Brasil ke pertumbuhan ekonomi akan membutuhkan kesepakatan dengan Kongres yang melulu bekerja demi uang, kata para analis -- sesuatu yang Bolsonaro bersumpah tidak akan dia lakukan.

Secara tradisional presiden Brasil akan menawarkan posisi menteri kepada anggota partai koalisi dengan imbalan dukungan -- ada lebih dari 30 partai di Kongres, tidak ada yang menjadi mayoritas. "Begitulah permainan itu digulirkan," kata David Fleischer, profesor ilmu politik emeritus di Universitas Brasilia dan pengamat veteran politik Brasil.

Saat ini, Bolsonaro mengayun gelombang antusiasme dari warga Brasil konservatif yang mengidentifikasi janjinya untuk mengembalikan negara mereka ke masa lalu tradisional.  Dalam sebuah jajak pendapat yang diterbitkan Selasa, 65 persen warga Brasil mengatakan mereka berharap pemerintah "baik atau hebat".

Dalam pidato kedua yang disampaikan dari kantor pusat kepresidenan setelah menerima mandat kepresidenan dari Presiden Temer yang akan meletakkan jabatan, Bolsonaro berkata bahwa warga Brasil sekarang dapat "memimpikan kehidupan yang lebih baik".

"Kita akan membangun kembali ketertiban di negara ini," katanya.


(FJR)