Wapres RI: Sudah Saatnya Masyarakat Internasional Ikut Tangani Pengungsi

Sonya Michaella    •    Selasa, 20 Sep 2016 08:08 WIB
sidang majelis umum pbb 2016
Wapres RI: Sudah Saatnya Masyarakat Internasional Ikut Tangani Pengungsi
Wapres RI, Jusuf Kalla di UNGA 2016, New York, AS (Foto: AP)

Metrotvnews.com, New York: Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla mengimbau agar masyarakat internasional lebih aktif dan peduli terhadap masalah pengungsi atau imigran.

Hal ini disampaikan Kalla dalam pidatonya di UN General Assembly atau Sidang Tahunan PBB di hadapan para pemimpin negara dan 193 negara anggota PBB.

"Masyarakat internasional harus berkerja sama lebih erat guna mengatasi berbagai tragedi kemanusiaan yang dialami para migran," tegas Kalla di Markas Besar PBB, di New York, seperti keterangan tertulis dari Kementerian Luar Negeri yang diterima Metrotvnews.com, Selasa (20/9/2016).

Kalla menyampaikan pidato pembukaan dalam rangka High-Level Meeting of The General Assembly on Addresing Large Movement of Refugees And Migrants, sebagai awalan dari serangkaian acara UNGA ke-71 ini.

Ia menambahkan masyarakat internasional harus turut serta dalam menyikapi tindakan komunitas internasional yang belum berhasil mengatasi masalah tingginya pergerakan pengungsi dan pencari suaka termasuk yang tenggelam di laut lepas.

Di depan Sekjen PBB dan sejumlah kepala negara dan pemerintahan dunia, Kalla juga menekankan pentingnya kerja sama internasional berdasarkan prinsip burden-sharing dan shared-responsibility yang merupakan salah satu kunci penyelesaian isu migrasi, mengingat tidak ada satu pun negara yang dapat menanggung sendiri penyelesaian itu tersebut.


Tempat UNGA dilaksanakan/AFP

"Burden-sharing dan shared-responsibility bukan berarti tanggung jawabnya dibagi rata, namun semua pihak harus dapat berkontribusi," ucap Kalla.

Dalam kesempatan tersebut, Kalla juga menyampaikan bahwa Indonesia walaupun bukan merupakan negara pihak pada Konvensi tentang status pengungsi tahun 1951, namun Indonesia dengan tangan terbuka dan secara konsisten telah memberikan bantuan kemanusian bagi para pengungsi.

"Saat ini ada hampir 14.000 pengungsi dari berbagai negara ada di Indonesia yang diberikan bantuan penampungan sementara dan bantuan kemanusiaan," tegas Kalla.
 
Lebih lanjut, Kalla menyampaikan pengalaman Indonesia dalam memberikan bantuan kepada lebih dari 250 ribu pengungsi antara tahun 1975-1996 dari negara tetangga pada saat adanya perang saudara di negara tersebut. 

"Indonesia mendedikasikan Pulau Galang bagi para pengungsi dan pencari suaka untuk diproses yang semuanya memakan waktu sampai 20 tahun," lanjutnya.


Wapres Kalla dan Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi/Dok. Kemlu

Menurutnya, tantangan dalam menghadapi pengungsi dan pencari suaka saat ini lebih kompleks di banding dengan pengalaman Indonesia pada tahun 1975. Ia menambahkan bahwa dalam menghadapi fenomena multidimensional irregular migration saat ini membutuhkan pendekatan menyeluruh.

"Dibutuhkan pendekatan pencegahan dan penyelesaian akar masalah dalam mengatasi masalah migran saat ini," tegas dia.
 
Untuk itu, dirinya menyampaikan initiatif dan kepemimpinan Indonesia dalam penanganan isu irregular migration di kawasan melalui Bali Process, yang telah menjadi model kerja sama utama di kawasan bagi pembahasan isu-isu pengungsi dan migrasi.

"Bali Process mengedepankan penyelesaian masalah irregular migration dengan burden-sharing dan shared-responsibility dan pendekatan pencegahan dan penyelesaian akar masalah," tuturnya.

Indonesia berharap pertemuan ini dapat mencegah lebih banyak migran dari kehilangan nyawa, aman bagi mereka yang membutuhkan bantuan kemanusiaan, dan mengakhiri penderitaan jutaan migran di tempat penampungan.

Dokumen hasil keluaran pertemuan yang diselenggarakan di Bali pada 23-25 Maret lalu memuat beberapa hal positif dalam penanganan pengungsi dan migran seperti mekanisme penerimaan dan aspek HAM irregular migrants serta pembentukan global compact on responsibility sharing for refugee dan global compact on safe, orderly and regular migrations.


(FJR)