Lavrov Sebut AS Tidak Punya Bukti Intervensi Rusia dalam Pemilu 2016

Willy Haryono    •    Sabtu, 23 Sep 2017 10:39 WIB
pemilu as
Lavrov Sebut AS Tidak Punya Bukti Intervensi Rusia dalam Pemilu 2016
Menlu AS Rex Tillerson (kanan) dan Menlu Rusia Sergei Lavrov di Kemenlu AS, Washington, 10 Mei 2017. (Foto: AFP/MANDEL NGAN)

Metrotvnews.com, New York: Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyebut pemerintahan Amerika Serikat (AS) gagal menghadirkan bukti bahwa Moskow pernah mengintervensi pemilihan umum Negeri Paman Sam pada 2016. 

Ia balik menuduh bahwa tudingan intervensi itu dibuat mantan Presiden Barack Obama untuk meracuni hubungan AS dan Rusia di masa mendatang. 

"Mereka menaruh bom waktu dalam hubungan AS dengan Rusia. Saya tidak menyangka hal itu dilakukan seorang peraih Nobel Perdamaian," tutur Lavrov kepada awak media di Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York, Jumat 22 September 2017. 

Lavrov mengaku dirinya telah meminta Menlu AS Rex Tillerson untuk menghadirkan bukti bahwa Kremlin secara diam-diam telah mendukung kampanye kubu Donald Trump pada 2016. 

Tillerson menjawab bukti keterlibatan merupakan bagian dari rahasia investigasi. Menurut Lavrov, jika bukti nyata itu memang ada, kemungkinan sudah bocor ke publik saat ini. 

"Dan sekarang potensi hubungan bilateral kedua negara semakin memburuk karena adanya histeria Russophobic," tutur Lavrov, merujuk pada istilah Ketakutan terhadap Rusia, seperti dilansir AFP

Penyelidikan Mueller

Sejumlah pejabat tinggi AS mengatakan pertemuan bilateral antara Tillerson dengan Lavrov difokuskan pada peningkatan koordinasi militer dua negara dalam konflik Suriah. 

Seorang jaksa khusus AS, Robert Mueller, telah meluncurkan penyelidikan masif mengenai tudingan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin mendukung Trump semasa kampanye. 

Kremlin dituduh lebih memilih mendukung Trump ketimbang Hillary Clinton, calon presiden dari Partai Republik yang mendukung serangkaian sanksi terhadap Rusia atas pelanggaran hak asasi manusia dan intervensi dalam krisis Ukraina. 

Rusia membantah keras tuduhan tersebut. Penyelidikan Mueller menggoyang stabilitas politik AS, membuat Trump geram dan memperburuk hubungan Washington dengan Moskow yang memang sudah tidak baik sejak awal.


(WIL)